Oleh: KAMMI Komisariat Universitas Gadjah Mada | Maret 10, 2009

Memberantas Kemaksiatan di UGM

“ Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra : 32).

Beberapa waktu yang lalu, kawan-kawan dari Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Intra Kampus (FSLDIK) turun ke jalan mengelilingi kampus UGM menyuarakan gerakan anti Valentine yang memang selalu identik dengan kemaksiatan dan pelacuran. Pada akhir tahun lalu FSLDIK juga menyelenggarakan acara UGM Undercover membahas masalah kemaksiatan yang kini tengah terjadi di UGM. Begitulah yang dilakukan oleh kawan-kawan kita dari Lembaga Dakwah Kampus di UGM demi mencegah terjadinya kemaksiatan di kampus kita tercinta ini.

Akhir-akhir ini kemaksiatan kerap menjadi keprihatinan kita bersama. Kala UGM terkenal sebagai kampus yang beradab dan bermoral ternyata isinya banyak “virus-virus” penebar kemaksiatan yang wajib kita berantas jika kita mengaku muslim yang senantiasa taat dan patuh kepada syariat Allah.

Para pelaku yang menebar kemaksiatan di UGM tersebut ternyata sebagian besar bukan merupakan mahasiswa UGM sendiri melainkan masyarakat umum kalangan muda-mudi dan mahasiswa non UGM. Seringkali mereka ketahuan tengah berdua-duaan di tempat sepi dan gelap di sejumlah posisi, misalnya di daerah lembah dan boulevard.

Menurut Bapak R. Deda Suwandi, Kepala SKKK UGM, jumlah persentase mahasiswa UGM yang melakukan kemaksiatan tersebut sekitar 0.00%. Sehingga SKKK mengeluarkan kebijakan untuk menutup sejumlah portal di kampus pada jam sepuluh malam. “Orang-orang yang datang jam segitu untuk berbuat maksiat nggak akan bisa masuk dan sebaliknya yang melakukan maksiat di dalam tidak akan bisa keluar. Dengan kata lain mereka terjebak.”

Selain itu SKKK UGM juga melakukan patroli proaktif menyisiri wilayah kampus UGM. Dalam melaksanakan tugasnya, SKKK seringkali memergoki pasangan yang tengah berbuat asusila. “Ada dua kasus sebagai contoh mas. Kasus mobil goyang di sekitar perumahan dosen. Pelaku yang berbuat demikian ternyata adalah seorang pramugari. Sudah bertunangan dan belum menikah. Yang kedua, enam anak pelajar SMP, mengerubuti satu orang pelacur di sekitar lembah pada tahun 2007. Katanya habis nonton BF. Iseng-iseng ingin mencoba,” kata Pak Deda. Dari dua kasus tersebut di atas, mungkin masih banyak lagi yang sejenis. Entah sudah berapa banyak kemaksiatan bertebaran di kampus biru ini dan masih saja kita mendiamkan diri dan tidak ambil peduli.

Namun ternyata masih ada sebagian dari kita yang tetap tidak mendiamkan kemaksiatan menjalar seenaknya di UGM. Menurut akh Syahril ’06, Ketua Jamaah Shalahuddin, lembaganya kini akan membentuk Laskar Shalahuddin guna memberantas kemaksiatan tersebut. “Anggotanya bukan hanya dari anggota JS saja, tapi dari elemen mahasiswa yang peduli akan kemaksiatan dan menjadi relawan untuk membantu Laskar ini. Namun Laskar Shalahuddin akan lebih diarahkan untuk mengingatkan, memahamkan dan memberi nasihat kepada pelaku kemaksiatan tersebut.”

Selain itu Jamaah Shalahuddin juga menerjunkan anggota-anggotanya untuk membantu SKKK mengelilingi kawasan kampus. Ternyata mereka menemukan fakta selain kemaksiatan juga penjualan miras di sekitar RS Sardjito dan Fakultas Teknik.

Warung-warung penjualan miras itu dibuka pukul 8 malam sampai tengah malam. Menurut akh Syahril, rupanya polisi dan tentara tidak berani mengamankan penjualan miras ini. “Disinyalir ada oknum yang membekingi sehingga tidak ada keberanian sama sekali dari aparat untuk memberantas penjualan miras ini.”

Pantaslah bila SKKK UGM kesulitan untuk mengatasi para pelaku penjual miras ini. “Berkali-kali saya melapor kepada polres agar kasus ini segera ditangani namun sampai sekarang masih belum mendapat tanggapan juga,” kata Pak Deda. Karena menurut beliau, penjualan miras ini adalah wilayah yurisdiksi kepolisian karena untuk menghentikannya harus melalui jalur hukum. “Bayangkan saja, mas. Penjualan itu dilakukan di dekat rumah sakit dan dekat sekolah, lembaga pendidikan.”

Mungkin memang benar ada oknum-oknum di balik ketidaktegasan aparat untuk memberantas miras dan judi di wilayah kampus kita. Bisa saja mereka menggerebek, namun penggerebekan itu hanya main-main dan sandiwara saja. Karena mereka memang dibayar oleh oknum untuk melakukannya. Sungguh memprihatinkan, penjualan miras di tengah lokasi pendidikan, tempat ibadah (Masjid Mardhiyah), dan rumah sakit (RS Sardjito). Adalah sangat tidak pantas kita membiarkannya. Kita harus bergerak untuk memberantasnya.

Sesungguhnya perzinaan mendekatkan diri kita kepada kekejian akhlak dan tingkah laku kita sehari-hari. Seorang akh (saudara seiman) pernah berkata, “Adalah mengherankan, bila Indonesia dan Belanda dicari perbedaannya. Indonesia yang terkenal penuh tata krama dan sopan santun, ternyata sebagian rakyatnya tertarik bahkan ketagihan pornografi sedangkan Belanda yang penuh bebas dan tidak ada tata krama apapun di sana, sebagian rakyatnya tidak tertarik dengan pornografi!”

Bila ternyata itu benar, bisa jadi ada sebuah konspirasi di balik itu. Sebuah pembodohan masyarakat muslim Indonesia agar moral dan akhlaknya merosot supaya cahaya Islam tidak lagi bersinar benderang di bumi Indonesia. Banyak sekali media-media pornografi bertebaran di sekitar kita. Majalah Playboy, FHM, dll. Bahkan penjualan kondom seharga Rp 500,-. Termasuk Valentine yang kian menghebohkan dengan pesta maksiat kiri-kanan.

Karena banyaknya media-media penuh gambar “najis, memalukan, barbar, dan primitif” tersebut, tak heran mereka-mereka yang menolak disahkannya UU Pornografi patut dipertanyakan akhlaknya sehari-hari. Apakah mereka sehari-harinya suka menonton BF atau menjadi pelaku yang melakukan pornografi dan pornoaksi itu sendiri? Waktulah yang membuktikan dan satu persatu mereka keluar menampakkan “belangnya”. Mulai dari para selebriti yang suka “goyang” dan berpakaian minim sampai para oknum seniman dan fotografer. Bahkan pihak Islam Liberal pun turun tangan.

Tak heran jika Siti Musdah Mulia mengatakan bahwa homoseksual itu fitrah, karena sudah dari sananya ia menebarkan racun-racun liberalnya agar masyarakat negeri ini semakin terperosok moralnya. Dimulai dengan kampanye hitamnya dengan menyatakan dukungan atas homosekualitas dan akhirnya melebar kepada hal-hal lain.

Ada sebuah kisah yang berbeda dengan pemuda Indonesia dengan pemuda Palestina. Di Gaza sana, di tengah dentuman peluru, keseharian mereka ialah selalu menghafalkan Al-Quran dan hadis serta mengamalkannya dalam sehari-hari sebagai tuntunan syariat Islam. Tak heran jika Israel merasa gentar begitu menyaksikan 3500 anak penghafal Al-Quran dilantik oleh HAMAS sehingga mereka mengincar anak-anak Palestina itu untuk dibunuh di Gaza. Mereka dididik dengan akhlak yang mulia, bermoral tinggi dan sangat penuh sopan santun di tengah masyarakat.

Namun apa yang terjadi dengan kita? Rokok, narkoba, dan kemaksiatan kian menghantui dan meneror kita dengan nyaman sekali hingga kita sama sekali tidak menyadarinya. Seks bebas begitu leluasa dilakukan tanpa malu-malu dan pandang bulu. Bahkan melakukannya di tengah jalan (baca : mobil goyang). Bahkan kemaksiatan yang luar biasa itu mulai melenakan mahasiswa-mahasiswa di UGM. Giginya yang menjijikkan kini mulai mengincar UGM kampus yang menjaga moralitas sebagai mangsa. Satu persatu kemaksiatan, perzinaan, narkoba dan miras mendekati UGM sebagai ladangnya untuk menanam kemaksiatan. Tak heran jika Allah menghendaki puting beliung yang melanda UGM tahun lalu bisa jadi penanda peringatan bagi kita bahwa Allah murka dan tidak meridhai kemaksiatan bebas berpesta pora di UGM!

Jika kita ingin terhindar dari azab Allah atas kemaksiatan di kampus ini dan Indonesia pada umumnya, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk memeranginya! Karena memberantas saja tidak cukup. Memberantas tidak akan cukup selama kita tidak angkat senjata untuk melawannya. Maka kata perang adalah kata yang cocok untuk itu. Tidak usahlah kita takut kepada ancaman musuh-musuh karena ancaman terhadap suatu tegaknya keadilan dan kebenaran itu akan terus ada dan tidak akan pernah berhenti. Tapi, percayalah selama kita mampu mengorganisir kebaikan maka kita pasti akan mengalahkan kejahatan apapun.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran : 104).


Beri tanggapan

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori