Perlengkapan Peserta DM 1 Koesnadi Hardjosoemantri KAMMI UGM

IMG_0841

Assalamualaikum wr.wb

Kepada peserta DM 1 Koesnadi Hardjosoemantri diharapkan berkumpul pada hari jum’at pukul 16.00 di depan segi 8 maskam UGM. pemberangkatan DM 1 hanya ada satu kloter yang tidak bisa berangkat pada jam tersebut silahkan menghubungi CP . untuk peserta yang tidak memiliki kendaraan harap menghubungi CP dan membawa helm saat pemberangkatan.

CP : 082395163721

Perlengkapan Peserta

  1. Slayer
  2. Jas Hujan
  3. Senter
  4. Lilin 2 batang
  5. Bekal makan malam untuk hari jum’at
  6. Pakaian untuk 3 hari
  7. Peralatan Mandi
  8. Buku dan Alat Tulis
  9. Mushaf
  10. Al Ma’tsurat
  11. Obat-obatan Pribadi
  12. Jaket
  13. Sepatu Lapangan atau sendal gunung
  14. Kertas Plano 2 lembar
  15. Korek Api
  16. Buku Bacaan atau buku cerita anak-anak ( boleh baru atau bekas )

Penugasan Konsumsi

  1. 0,5 Kg Beras
  2. 2 Botol air mineral 1,5 Liter
  3. 3 buah ubi ukuran sedang
  4. 3 Sachet susu kental manis
  5. 2 Butir telur ayam
  6. 1 buah gula merah
  7. Snack Pribadi

Penugasan DM 1 Koesnadi Hardjosoemantri KAMMI Komisariat UGM

11148513_937186189647000_2502671863952018219_n

Assalamualaikum

Sebagai bagian dari proses seleksi Dauroh Marhalah 1 KAMMI UGM, panitia memberikan beberapa tugas review buku dan juga opini kepada peserta Dauroh Marhalah 1 KAMMI UGM, hal ini adalah bagian dari penyiapan pemahaman peserta dalam mengikuti Dauroh yang akan dilaksanakan pada tanggal 1-3 Mei 2015 besok. jika ada pertanyaan dan kesulitan dalam mencari buku untuk di review silahkan hubungi panitia. berikut adalah penugasan DM 1 KAMMI UGM :,

1. Pilihlah salah satu judul buku dibawah ini dan buatlah resume-nya:

          -Kammi dan Pergulatan Reformasi-Mahfudz Shidik

          -Masa Depan di Tangan Islam- Sayyid Qutb

          -Manhaj Haroki jilid 1-Muhammad Ghadban

  1. Membuat Opini tentang ‘Dakwahku di Kampus Sekuler’.
  2. Membuat Opini tentang Tokoh Muslim Inspiratif.
  3. Review biografi, Koesnadi Hardjasoemantri dan nilai kepribadian bisa yang diambil.Ketentuan membuat resume dan opini: hard copy, maksimal 800 kata dengan format (A4_ Times New Roman_12_ Margin standar_spasi 1,5).
  4. Menghafal Thaha 110-114
  5. Mengikuti Pra DM-Ipada tanggal 24 April 2015 dan Pra DM-II pada 27 April Bagi yang tidak mengikuti Pra DM baik 1 dan 2 wawancarai 3 temannya dan membuat resumenya. Dikumpul pada hari pelaksanaan DM.

Islam, Wanita dan Warisan Tradisi di dalamnya

Jika kita melihat islam dan perkembangannya di Indonesia, yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari pulau jawa.
Banyak yang menyimpulkan dinegara kita, wanita sangat direndahkan dan tidak dimerdekakan. Hingga kemudian menganggap dibelahan dunia barat, wanita teramat sangat dimerdekakan dg kebebasannya.

Tapi.. cobalah kita amati sekali lagi.
George Bernard Shaw pernah mengatakan ” Disaat perempuan bersuami, disaat itu pula semua harta yang menjadi miliknya, menurut undang-undang inggris menjadi milik suaminya”
Dengan ini, bisa dipahami jika di dunia barat, gerakan feminisme masih merajalela.

Sedangkan dinegara kita yang mayorita warganya adalah seorang muslim, betapa seorang wanita sangat dihargai Jika musuh2 islam mencari alasan, bahwa islam memandang hina dan tidak memberi hak apa2 bagi kaum perempuan. Maka, bolehlah kita melihat dari sisi budaya Jawa yg sedikit banyak diilhami oleh agama islam. Dien yg sangat memuliakan perempuan.

Mungkin sering kita temukan beberapa rumah adat Jawa dan Betawi yang memiliki dua lapis pintu. Satu lapis pintu utama selayaknya pintu biasa. Satu lapis berikutnya adlaah pintu yang biasanya hanya setinggi dada. Apakah itu hanya hiasan saja? Tentu tidak.

Didalam islam tentu kita faham larangan berkholwat  ataupun berikhtilat. Yaitu bersamanya laki2 dan perempuan yang bukan muslim. Karna memang ada batasan antara laki2 dan perempuan
Bahkan tidak diperkenankan menerima tamu laki2, jika ia seorang perempuan yang hanya sendiri.
Jika hal ini diterapkan oleh masyarakat pada zaman dahulu, apakah mereka akan menerima?? Sedangkan masyarakat Jawa yang kita kenal adalah masyarakat yg Guyub, rukun, gemah ripah loh jinawi.Menjunjung tinggi sosialisasi antar sesama.

Disinilah pintu yg dirancang sedemikian rupa berfungsi.
Pintu itulah yang melindungi mereka dari bahaya dunia luar. Namun tidak menutup rapat begitu saja trhadap dunia luar
Betapa wanita sangat dilindungi.
Betapa seorang wanita bagaikan emas permata yang layak dperjuangkan kesuciannya
Dan betapa nenek moyang kita mewariskan  masa depan kepada ank cucunya dg warisan yang amat luhur.
Menjaga-Dijaga -Terjaga

Tetapi lambat laun warisan itu memudar.  satu persatu wanita tidak menghargai keistimewaannya sendiri. Bahkan mungkin banyak yang sudah tidak mengenal, bahwa dirinya adalah emas permata dunia yang menjadi tolak ukur suatu negara.Lantas… apakah kita masih ingin berkiblat kepada dunia barat??

Sedang kita seharusnya Menjaga-Dijaga-Terjaga.

#ARB.Mir’an

#KAMMImenulis
Oleh: Agi

Fanpage: KAMMI Komsat UGM
Twitter: @kammi_ugm

Perlengkapan peserta DM Laksamana Cheng Ho

Perlengkapan Peserta :
1. Slayer
2. Jas Hujan
3. Senter
4. Lilin 2 batang
5. Bekal makan malam untuk hari jum’at
6. Pakaian untuk 3 hari
7. Peralatan Mandi
8. Buku dan Alat Tulis
9. Mushaf
10. Al Ma’tsurat
11. Obat-obatan Pribadi
12. Jaket
13. Sepatu Lapangan atau sendal gunung
14. Kertas Plano 2 lembar
15. Korek Api
16. Buku Bacaan atau buku cerita anak-anak ( boleh baru atau bekas )
17. Artikel mengenai kebijakan Maritim dan kelautan Jokowi ( di print )

Penugasan Konsumsi
1. 0,5 Kg Beras
2. 2 Botol air mineral 1,5 Liter
3. 3 buah ubi ukuran sedang
4. 3 Sachet susu kental manis
5. 2 Butir telur ayam
6. 1 buah gula merah
7. Snack Pribadi

+ untuk peserta yang tidak mengikuti Pra DM 2 silahkan membuat resume materi dengan mewawancarai peserta lain yang mengikuti Pra DM, resume dikumpulkan ketika DM
+ untuk pemberangkatan peserta pada hari jum’at harap kumpul di masjid mardliyah ( selatan rumah sakit sardjito ). kloter pertama kumpul pukul 16.00, kloter kedua pukul 18.00.

Penugasan DM 1 Laksamana Cheng Ho

  1. Membayar Administrasi sebesar Rp. 40.000,-
  2. Pilihlah salah satu judul buku dibawah ini dan buatlah resume-nya:
  3. Agenda Mendesak Bangsa : Selamatkan Indonesia oleh Amien Rais
  4. Risalah Pergerakan Jilid 1 atau 2 oleh Hasan Al Banna
  5. Kapita Selekta oleh M.Natsir.
  6. Membuat Opini tentang Tokoh Muslim Inspiratif.
  7. Membuat Opini tentang ‘Dakwahku di Kampus Sekuler’.

Ketentuan membuat resume dan opini: hard copy, maksimal 800 kata dengan format (A4_ Times New Roman_12_ Margin standar_spasi 1,5).

  1. Menghafal Surat Al Ankabut ayat 1-5.
  2. Mengikuti Pra DM1 pada tanggal 20 Februari 2015 dan Pra DM II pada 24 Februari 2015. (Informasi mengenai waktu dan tempat akan diberitahu melalui SMS).

Notes: Penugasan wajib dibawa pada hari kegiatan. Barang bawaan lainnya untuk hari kegiatan akan diumumkan pada Technical Meeting.

ISLAM DAN SEKULARISME Oleh : Mohamad Yudha Prawira

 

 ISLAM DAN SEKULARISME[1]

Oleh : Mohamad Yudha Prawira[2]

 

[1] Disampaikan pada diskusi “Islam dan Sekularisme”. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) UGM, Yogyakarta, 20/3/2014.

[2] Mahasiswa Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta.

            Pada abad ke-16 masehi bangsa Eropa berada di dalam era kegelapan yang cukup panjang. Peperangan yang terjadi akibat dari perbedaan pandangan antara Katolik dan Protestan menyebabkan gelombang wabah kelaparan melanda diseluruh wilayah Eropa. Hal ini kemudian menjadi pemicu dari timbulnya sebuah perjanjian yang dikenal The Westpahlia Treaty. Sebuah perjanjian yang mengakhiri Perang Eropa selama 30 tahun, berhasil memancangkan tonggak sejarah bernegara secara modern dalam konsepnationstate dan menjadi permulaan bagi terjadinya sistem hubungan internasional secara modern, yang disebut sebagaiWestphalian System”.[1]

            Terdapat dua hal yang menjadi pokok dalam perjanjian westphalia terhadap budaya sekularisme yangb timbul dikemudian hari, yakni (1) adanya pemisahan kepentingan keagamaan dengan kepentingan negara/kerajaan; (2) perjanjian ini merupakan tonggak dari timbulnya konsep negara modern (nation-state). Pemisahan unsur keagamaan dengan kerajaan ini dilakukan dengan menolak kepentingan gereja dan para paus terhadap kepentingan kerajaan. Lebih jauh lagi, dua hal pokok perjanjian westphalia itu menimbulkan adanya pemisahan unsur-unsur negara (nation-state) dengan unsur-unsur agama.

            Kenyataan yang terjadi di Eropa tersebut tentu sangat relevan, mengingat latar belakang sejarah dan juga pertentangannya terhadap kaum gereja. Tetapi kemudian yang patut dipertanyakan adalah apakah umat Islam pernah mengalami hal demikian sepanjang sejarah?

            Sistem negara modern (nation-state) yang saat ini tercipta adalah hasil dari pengembangan dari westphalian system yang memberikan batasan-batasan wilayah bangsa-bangsa eropa yang kemudian berkembang menjadi sebuah negara. Berbeda dengan pandangan umat muslim yang memiliki konsep Ad-Din dalam memandang sebuah negara, ia masih berpedoman kepada konsep tradisional kerajaan yang belum menemukan titik temu terhadap konsep negara modern saat ini. Umat muslim seakan kehilangan pedoman pengetahuan terhadap konsep negara modern. Kita kini tidak mampu untuk mengembangkan pengetahuan dalam menyesuaikan antara konsep Ad-Din Islam dengan konsep negara modern. Sehingga mau tidak mau kita terjerumus kedalam konsep negara modern ala Eropa.

            Berbeda dengan konsep nation-state, Ad-Din memiliki arti yang menyeluruh yakni mengandung arti peraturan dan tata cara hidup, dimana seseorang benar-benar merendahkan diri di hadapan penguasa tunggal semesta alam. Kemudian berlanjut dengan sikap taat dan mengikuti serta mengikat hidupnya dengan peraturan serta tata cara tersebut. Semua sikapnya hanya bertujuan mengharapkan keridhaan, kemuliaan serta balasan yang baik, dan takut jika peraturan tersebut dilanggar. Maka akan mengakibatkan kenistaan serta akan mengakibatkan balasan yang jelek dikemudian hari.[2] Mungkin kalimat (state) mendekati makna Ad-Din, namun untuk menyamakan dengan arti Ad-Din masih harus diperluas lagi pengertian dan maknanya.[3]

            Di negara Indonesia sendiri, paham antara negara Islam dan negara sekuler selalu menimbulkan perdebatan. Semenjak Indonesia merdeka perdebatan antara golongan Islamis dan Nasionalis kerap terjadi. Hingga mencapai puncaknya dengan pencabutan sila pertama yakni “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha esa”. Perubahan sila pertama tersebut tentu menimbulkan dampak yang sangat besar bagi kehidupan umat muslim di Indonesia. Perjuangan golongan Islamis untuk menegakkan syariat Islam gagal tercapai yang disebabkan oleh hadangan dari umat muslim itu sendiri.

            Perlu diketahui bahwa paham sekularisme sebenarnya telah mengakar di Indonesia sejak lama. Menurut Yudi Latif, proses sekularisme yang terjadi di Indonesia itu sudah dilakukan semenjak zaman Imperialisme Belanda. Pendapat ini juga sesuai dengan pendapat Abdul Kadir Audah yang mengatakan Islam dan Imperialisme akan selalu berlawanan. Dalam usaha melakukan penjajahannya untuk menghancurkan kerajaan-kerajaan Islam dahulu, para penjajah telah menyerang pemahaman umat Islam dengan mengajarkan ajaran sekularisme. Seorang menteri Kerajaan Inggris (Gladstone) diwaktu ia berdiri dimuka Majelis Umum berkata: Sesungguhnya telapak kaki Imperium Inggris tidak bisa tegak dengan kokohnya dalam suatu Negeri Islam, selama Quran masih ada[4]. Inilah yang menjadi pandangan bahwa umat muslim tidak mudah untuk dijajah ataupun dihancurkan, sehingga mereka menyerang umat muslim dari dalam melalui kepemahaman. Dalam menggapai usahanya tersebut, selain menghancurkan umat muslim dari dalam, kaum Imperalis juga membonceng kaum zending (misionaris) demi membantu mereka dalam mempermudah penjajahan terhadap bangsa-bangsa muslim.

            Di Indonesia sendiri proses sekularisasi telah dilakukan sebelum negara ini terbentuk melalui empat bidang pokok dalam kehidupan bermasyarakat. Yudi Latif mengatakan ada empat bidang dalam Polity-Expansion Secularization yang dilakukan kaum imperalisterhadap bangsa Indonesia yakni :

  1.                   Sekularisasi Hukum
  2.                   Sekularisasi Pendidikan
  3.                   Sekularisasi Struktur Sosial
  4.                   Sekularisasi Ekonomi[5]

            Keempat bidang tersebut telah merubah pandangan bangsa Indonesia yang menyebabkan Bangsa ini jauh dari agamanya. Terdapat tembok pembatas yang memisahkan ajaran Islam dengan umat muslim di negara-negara Sekuler. Pemerintah muslim justru memerangi atau mengingkari ajaran-ajaran Islam yang telah menjadi agama mayoritas mereka. Menurut Abdul Kadir Audah penyebab dari pengingkaran ajaran Islam yang dilakukan oleh pemerintah muslim terjadi akibat dua faktor utama yakni: (1) Penguasanya takut tidak duduk berkuasa lagi, (2) Masyarakat Muslimnya tidak paham terhadap hukum-hukum Islam[6].

            Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim kita harus kembali bangkit memberikan pemahaman yang sebenarnya mengenai konsep Ad-Din dan juga mengembalikan pengetahuan-pengetahuan Islam terutama hukum Islam. Tanpa konsep keduanya umat Islam hanya akan terpecah belah antara golongan Islam dan golongan Islam sekuler. wallahu a’lam          

[1]Takdir Ali Mukti. “Sistem Pasca Westphalia, Interaksi Transnasional dan Paradiplomacy”. (https://www.academia.edu/3780172/SISTEM_PASCA_WESTPHALIA_INTERAKSI_TRANSNASIONAL_DAN_PARADIPLOMACY)

[2] Abu A’la Al Maududi. 2002. “4 Istilah dalam Al Qur’an”. Pustaka Azzam: Jakarta. Hal. 151.

[3] Ibid,. Hal.152.

[4] Abdul Kadir Audah. 1974. “Islam dan Perundang-Undangan”. Bulan Bintang: Jakarta. Hal.167.

[5] Zainun Kamal, dkk. 2005. “Islam Negara & Civil Society: Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer”. Paramadina: Jakarta. Hal. 124-141.

[6] Abdul Kadir Audah. 1974. “Islam dan Perundang-Undangan”. Bulan Bintang: Jakarta. Hal. 177.

Metode Tafsir Hermeneutika: Modern atau Ngawur?

Gambar

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’andan Kami pula-lah yang memeliharanya”. (QS. Al-Hijr: 9).

Hermeneutika berhasil memunculkan kontroversi, ketika beberapa akademisi yang notabene lulusan pesantren ataupun kampus Islam mempromosikan hermeneutika sebagai metode tafsir baru yang lebih modern dan fleksibel. Para akademisi di bidang ilmu tafsir dan ilmu al-Qur’an sudah mempelajarinya, bahkan mempraktikannya untuk menafsirkan kitab yang terjaga keasliannya hingga hari kiamat. Beberapa kampus Islam sudah menjadikan hermeneutika sebagai mata kuliah wajib untuk jurusan yang berkaitan dengan tafsir.

Secara harfiah, hermeneutika berarti tafsir. Secara etimologis, istilah hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuin yang berarti menafsirkan[1]. Disinyalir istilah ini merujuk kepada Dewa Hermes dalam mitologi Yunani, yang dikenal sebagai penyampai pesan-pesan dewa kepada manusia.

Dalam Sahiron Syamsuddin (2009) disebutkan bahwa hermeneutika sudah disinggung dalam filsafat Yunani kuno. Objek penafsiran berupa kitab suci, puisi, ataupun mitos[2]. Awalnya hermeneutika ini digunakan untuk menafsirkan teks-teks sastra Yunani kuno. karena hermeneutika dipandang sebagai metode tafsir yang bersifat luas, bukan hanya yang tertulis, tetapi juga yang tidak tertulis. Awalnya, Friedrich Schleiermacher –dijuluki Bapak Hermeneutika Modern- menggunakan hermeneutika sebagai metode penafsiran bibel. Schleiermacher adalah seorang Kristen lulusan sebuah kampus Kristen yang cenderung liberal. Seiring berjalannya waktu, muncullah liberalis-liberalis baru yang memperkenalkan hermeneutika sebagai metode penafsiran al-Qur’an. Mantan rektor IAIN Sunan Kalijaga, Amin Abdullah, amat gigih dalam menggunakan hermeneutika sebagai tafsir al-Qur’an. Bahkan beberapa liberalis mengatakan bahwa al-Qur’an hanyalah muntaj tsaqafi (produk budaya) dari bangsa Arab yang dibawa oleh Muhammad. Kebanyakan liberalis ‘membebek’ para ‘syaikh’nya di Barat untuk merusak cara pandang muslim terhadap al-Qur’an.

Sejatinya dalam menafsirkan al-Qur’an, seorang mufasir dituntut menguasai beberapa cabang ilmu yang diperlukan untuk menafsirkan al-Qur’an. Artinya, dalam menafsirkan tidak boleh menggunakan logika pribadi tak berdasar, perasaan, atau spekulasi-spekulasi yang hanya berwujud subjektivitas. Metode tafsir yang digunakan harus sesuai dengan tuntunan yang ada. Seorang mufasir juga bukan hanya dituntut menguasai ilmu bidang tafsir saja, tetapi juga harus shalih kepribadiannya.

Jika kita mempelajari ulumul qur’an, kita akan menemukan tentang i’jazul qur’an (mukjizat al-Qur’an) yang akan menerangkan keajaiban-keajaiban al-Qur’an dibanding kitab-kitab lainnya. Al-Qur’an adalah kitab wahyu yang diucapkan langsung oleh Allah, kemudian disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam. Tafsir qur’an adalah penjelasan makna kata-kata dalam susunan kalimatnya, dan makna susunan ayat-ayatnya menurut apa adanya. Untuk mengetahui cara penafsiran, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa apa yang dikemukakan oleh al-Qur’an hendaknya dipelajari secara ijmal (garis besar) hingga hakikat yang dikemukakan oleh Qur’an itu menjadi jelas.

Jika hermeneutika ditarik untuk menjadi metode penafsiran qur’an, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang rancu. Karena hermeneutika berangkat dari budaya yang jauh dari budaya keislaman. Pertama kali digunakan sebagai metode penafsiran, hermeneutika digunakan sebagai metode penafsiran Kitab Bibel. Bila kita menilik kepada i’jazul qur’an, maka metode ini akan terpatahkan, karena kualitas Qur’an jelas di atas kitab-kitab lainnya. Kemudian, Al-Qur’an adalah kitab suci, sangatlah tidak selevel dengan sastra Yunani kuno yang ditafsirkan dengan metode hermeneutika. Hermeneutika menitikberatkan penafsiran secara kontekstual, bukan tekstual. Padahal, segala hal yang otentik haruslah berawal dengan penafsiran yang tekstual, bukan kontekstual terlebih dahulu. Dapat dikatakan, bahwa hermeneutika hanyalah penafsiran sesuai pandangan dan nalar si penafsir.

Hermeneutika justru memunculkan relativitas tafsir. Tafsir menjadi ambigu dan membingungkan kaum muslimin dalam memahami al-Qur’an secara jelas. Lebih parah lagi, para pengguna hermeneutika biasanya mencurigai para ulama terdahulu. Mereka menuduh ulama kolot, dan kuno.

Tafsir qur’an memiliki dua sifat. Relatif (zhanni) dan tetap (qath’i). Ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang sulit ditafsirkan secara jelas, para ulama pun berbeda pendapat akan hal-hal tersebut, namun bersepakat bahwa memang ayat-ayat mutasyabihat bersifat multi-tafsir. Sedangkan ayat-ayat muhkamat bersifat jelas, ulama bersepakat dalam penafsirannya, dan biasanya menjadi dalil-dalil hukum. Tidak semua ayat bersifat relatif, dan tidak semua ayat bersifat pasti. Semua ada porsinya, agar manusia terus belajar dan mengambil hikmah yang terkandung dalam setiap ayat-ayat-Nya. Al-Qur’an bukanlah kitab yang tunduk dan mengikuti perkembangan budaya, justru Qur’anlah yang merombak budaya, dan menuntun manusia kepada budaya yang lebih baik.

Referensi

Al-Qur’an al-Kariim

Abu Zayd, Nasr Hamid, Teks Otoritas Kebenaran (terj), Yogyakarta: LkiS, 2003

Adian Husaini & Abdurrahman Al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, Depok: Gema Insani Press, 2007

Husaini, Adian, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam, Depok: Gema Insani Press, 2009

Salim, Fahmi, Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal, Depok: Gema Insani Press, 2011

Shalahuddin, Henri, Al-Qur’an Dihujat, Depok: Gema Insani Press

Syamsuddin, Sahiron, Hermeneutika dan Pengembangan ‘Ulumul Qur’an, Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009


[1] Adan Husaini & Abdurrahman Al-Baghdadi. Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an. Depok: Gema Insani Press. 2007.

[2] Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin. Hermeneutika dan Pengembangan ‘Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Pesantren Nawasea Press. 2009.

“Metode Tafsir Hermeneutika: Modern atau Ngawur?”

Oleh: Zaky Ahmad Rivai (Pengkaderan KAMMI Komisariat UIN SunanKalijaga)

Disampaikan dalam diskusi pekanan Kajian Keilmuan KAMMI Komisariat UGM Sabtu, 1 Maret 2014 (admin)