Perlengkapan peserta DM Laksamana Cheng Ho

Perlengkapan Peserta :
1. Slayer
2. Jas Hujan
3. Senter
4. Lilin 2 batang
5. Bekal makan malam untuk hari jum’at
6. Pakaian untuk 3 hari
7. Peralatan Mandi
8. Buku dan Alat Tulis
9. Mushaf
10. Al Ma’tsurat
11. Obat-obatan Pribadi
12. Jaket
13. Sepatu Lapangan atau sendal gunung
14. Kertas Plano 2 lembar
15. Korek Api
16. Buku Bacaan atau buku cerita anak-anak ( boleh baru atau bekas )
17. Artikel mengenai kebijakan Maritim dan kelautan Jokowi ( di print )

Penugasan Konsumsi
1. 0,5 Kg Beras
2. 2 Botol air mineral 1,5 Liter
3. 3 buah ubi ukuran sedang
4. 3 Sachet susu kental manis
5. 2 Butir telur ayam
6. 1 buah gula merah
7. Snack Pribadi

+ untuk peserta yang tidak mengikuti Pra DM 2 silahkan membuat resume materi dengan mewawancarai peserta lain yang mengikuti Pra DM, resume dikumpulkan ketika DM
+ untuk pemberangkatan peserta pada hari jum’at harap kumpul di masjid mardliyah ( selatan rumah sakit sardjito ). kloter pertama kumpul pukul 16.00, kloter kedua pukul 18.00.

Penugasan DM 1 Laksamana Cheng Ho

  1. Membayar Administrasi sebesar Rp. 40.000,-
  2. Pilihlah salah satu judul buku dibawah ini dan buatlah resume-nya:
  3. Agenda Mendesak Bangsa : Selamatkan Indonesia oleh Amien Rais
  4. Risalah Pergerakan Jilid 1 atau 2 oleh Hasan Al Banna
  5. Kapita Selekta oleh M.Natsir.
  6. Membuat Opini tentang Tokoh Muslim Inspiratif.
  7. Membuat Opini tentang ‘Dakwahku di Kampus Sekuler’.

Ketentuan membuat resume dan opini: hard copy, maksimal 800 kata dengan format (A4_ Times New Roman_12_ Margin standar_spasi 1,5).

  1. Menghafal Surat Al Ankabut ayat 1-5.
  2. Mengikuti Pra DM1 pada tanggal 20 Februari 2015 dan Pra DM II pada 24 Februari 2015. (Informasi mengenai waktu dan tempat akan diberitahu melalui SMS).

Notes: Penugasan wajib dibawa pada hari kegiatan. Barang bawaan lainnya untuk hari kegiatan akan diumumkan pada Technical Meeting.

ISLAM DAN SEKULARISME Oleh : Mohamad Yudha Prawira

 

 ISLAM DAN SEKULARISME[1]

Oleh : Mohamad Yudha Prawira[2]

 

[1] Disampaikan pada diskusi “Islam dan Sekularisme”. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) UGM, Yogyakarta, 20/3/2014.

[2] Mahasiswa Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta.

            Pada abad ke-16 masehi bangsa Eropa berada di dalam era kegelapan yang cukup panjang. Peperangan yang terjadi akibat dari perbedaan pandangan antara Katolik dan Protestan menyebabkan gelombang wabah kelaparan melanda diseluruh wilayah Eropa. Hal ini kemudian menjadi pemicu dari timbulnya sebuah perjanjian yang dikenal The Westpahlia Treaty. Sebuah perjanjian yang mengakhiri Perang Eropa selama 30 tahun, berhasil memancangkan tonggak sejarah bernegara secara modern dalam konsepnation-state dan menjadi permulaan bagi terjadinya sistem hubungan internasional secara modern, yang disebut sebagaiWestphalian System”.[1]

            Terdapat dua hal yang menjadi pokok dalam perjanjian westphalia terhadap budaya sekularisme yangb timbul dikemudian hari, yakni (1) adanya pemisahan kepentingan keagamaan dengan kepentingan negara/kerajaan; (2) perjanjian ini merupakan tonggak dari timbulnya konsep negara modern (nation-state). Pemisahan unsur keagamaan dengan kerajaan ini dilakukan dengan menolak kepentingan gereja dan para paus terhadap kepentingan kerajaan. Lebih jauh lagi, dua hal pokok perjanjian westphalia itu menimbulkan adanya pemisahan unsur-unsur negara (nation-state) dengan unsur-unsur agama.

            Kenyataan yang terjadi di Eropa tersebut tentu sangat relevan, mengingat latar belakang sejarah dan juga pertentangannya terhadap kaum gereja. Tetapi kemudian yang patut dipertanyakan adalah apakah umat Islam pernah mengalami hal demikian sepanjang sejarah?

            Sistem negara modern (nation-state) yang saat ini tercipta adalah hasil dari pengembangan dari westphalian system yang memberikan batasan-batasan wilayah bangsa-bangsa eropa yang kemudian berkembang menjadi sebuah negara. Berbeda dengan pandangan umat muslim yang memiliki konsep Ad-Din dalam memandang sebuah negara, ia masih berpedoman kepada konsep tradisional kerajaan yang belum menemukan titik temu terhadap konsep negara modern saat ini. Umat muslim seakan kehilangan pedoman pengetahuan terhadap konsep negara modern. Kita kini tidak mampu untuk mengembangkan pengetahuan dalam menyesuaikan antara konsep Ad-Din Islam dengan konsep negara modern. Sehingga mau tidak mau kita terjerumus kedalam konsep negara modern ala Eropa.

            Berbeda dengan konsep nation-state, Ad-Din memiliki arti yang menyeluruh yakni mengandung arti peraturan dan tata cara hidup, dimana seseorang benar-benar merendahkan diri di hadapan penguasa tunggal semesta alam. Kemudian berlanjut dengan sikap taat dan mengikuti serta mengikat hidupnya dengan peraturan serta tata cara tersebut. Semua sikapnya hanya bertujuan mengharapkan keridhaan, kemuliaan serta balasan yang baik, dan takut jika peraturan tersebut dilanggar. Maka akan mengakibatkan kenistaan serta akan mengakibatkan balasan yang jelek dikemudian hari.[2] Mungkin kalimat (state) mendekati makna Ad-Din, namun untuk menyamakan dengan arti Ad-Din masih harus diperluas lagi pengertian dan maknanya.[3]

            Di negara Indonesia sendiri, paham antara negara Islam dan negara sekuler selalu menimbulkan perdebatan. Semenjak Indonesia merdeka perdebatan antara golongan Islamis dan Nasionalis kerap terjadi. Hingga mencapai puncaknya dengan pencabutan sila pertama yakni “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha esa”. Perubahan sila pertama tersebut tentu menimbulkan dampak yang sangat besar bagi kehidupan umat muslim di Indonesia. Perjuangan golongan Islamis untuk menegakkan syariat Islam gagal tercapai yang disebabkan oleh hadangan dari umat muslim itu sendiri.

            Perlu diketahui bahwa paham sekularisme sebenarnya telah mengakar di Indonesia sejak lama. Menurut Yudi Latif, proses sekularisme yang terjadi di Indonesia itu sudah dilakukan semenjak zaman Imperialisme Belanda. Pendapat ini juga sesuai dengan pendapat Abdul Kadir Audah yang mengatakan Islam dan Imperialisme akan selalu berlawanan. Dalam usaha melakukan penjajahannya untuk menghancurkan kerajaan-kerajaan Islam dahulu, para penjajah telah menyerang pemahaman umat Islam dengan mengajarkan ajaran sekularisme. Seorang menteri Kerajaan Inggris (Gladstone) diwaktu ia berdiri dimuka Majelis Umum berkata: Sesungguhnya telapak kaki Imperium Inggris tidak bisa tegak dengan kokohnya dalam suatu Negeri Islam, selama Quran masih ada[4]. Inilah yang menjadi pandangan bahwa umat muslim tidak mudah untuk dijajah ataupun dihancurkan, sehingga mereka menyerang umat muslim dari dalam melalui kepemahaman. Dalam menggapai usahanya tersebut, selain menghancurkan umat muslim dari dalam, kaum Imperalis juga membonceng kaum zending (misionaris) demi membantu mereka dalam mempermudah penjajahan terhadap bangsa-bangsa muslim.

            Di Indonesia sendiri proses sekularisasi telah dilakukan sebelum negara ini terbentuk melalui empat bidang pokok dalam kehidupan bermasyarakat. Yudi Latif mengatakan ada empat bidang dalam Polity-Expansion Secularization yang dilakukan kaum imperalisterhadap bangsa Indonesia yakni :

  1.                   Sekularisasi Hukum
  2.                   Sekularisasi Pendidikan
  3.                   Sekularisasi Struktur Sosial
  4.                   Sekularisasi Ekonomi[5]

            Keempat bidang tersebut telah merubah pandangan bangsa Indonesia yang menyebabkan Bangsa ini jauh dari agamanya. Terdapat tembok pembatas yang memisahkan ajaran Islam dengan umat muslim di negara-negara Sekuler. Pemerintah muslim justru memerangi atau mengingkari ajaran-ajaran Islam yang telah menjadi agama mayoritas mereka. Menurut Abdul Kadir Audah penyebab dari pengingkaran ajaran Islam yang dilakukan oleh pemerintah muslim terjadi akibat dua faktor utama yakni: (1) Penguasanya takut tidak duduk berkuasa lagi, (2) Masyarakat Muslimnya tidak paham terhadap hukum-hukum Islam[6].

            Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim kita harus kembali bangkit memberikan pemahaman yang sebenarnya mengenai konsep Ad-Din dan juga mengembalikan pengetahuan-pengetahuan Islam terutama hukum Islam. Tanpa konsep keduanya umat Islam hanya akan terpecah belah antara golongan Islam dan golongan Islam sekuler. wallahu a’lam          

[1]Takdir Ali Mukti. “Sistem Pasca Westphalia, Interaksi Transnasional dan Paradiplomacy”. (https://www.academia.edu/3780172/SISTEM_PASCA_WESTPHALIA_INTERAKSI_TRANSNASIONAL_DAN_PARADIPLOMACY)

[2] Abu A’la Al Maududi. 2002. “4 Istilah dalam Al Qur’an”. Pustaka Azzam: Jakarta. Hal. 151.

[3] Ibid,. Hal.152.

[4] Abdul Kadir Audah. 1974. “Islam dan Perundang-Undangan”. Bulan Bintang: Jakarta. Hal.167.

[5] Zainun Kamal, dkk. 2005. “Islam Negara & Civil Society: Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer”. Paramadina: Jakarta. Hal. 124-141.

[6] Abdul Kadir Audah. 1974. “Islam dan Perundang-Undangan”. Bulan Bintang: Jakarta. Hal. 177.

Metode Tafsir Hermeneutika: Modern atau Ngawur?

Gambar

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’andan Kami pula-lah yang memeliharanya”. (QS. Al-Hijr: 9).

Hermeneutika berhasil memunculkan kontroversi, ketika beberapa akademisi yang notabene lulusan pesantren ataupun kampus Islam mempromosikan hermeneutika sebagai metode tafsir baru yang lebih modern dan fleksibel. Para akademisi di bidang ilmu tafsir dan ilmu al-Qur’an sudah mempelajarinya, bahkan mempraktikannya untuk menafsirkan kitab yang terjaga keasliannya hingga hari kiamat. Beberapa kampus Islam sudah menjadikan hermeneutika sebagai mata kuliah wajib untuk jurusan yang berkaitan dengan tafsir.

Secara harfiah, hermeneutika berarti tafsir. Secara etimologis, istilah hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuin yang berarti menafsirkan[1]. Disinyalir istilah ini merujuk kepada Dewa Hermes dalam mitologi Yunani, yang dikenal sebagai penyampai pesan-pesan dewa kepada manusia.

Dalam Sahiron Syamsuddin (2009) disebutkan bahwa hermeneutika sudah disinggung dalam filsafat Yunani kuno. Objek penafsiran berupa kitab suci, puisi, ataupun mitos[2]. Awalnya hermeneutika ini digunakan untuk menafsirkan teks-teks sastra Yunani kuno. karena hermeneutika dipandang sebagai metode tafsir yang bersifat luas, bukan hanya yang tertulis, tetapi juga yang tidak tertulis. Awalnya, Friedrich Schleiermacher –dijuluki Bapak Hermeneutika Modern- menggunakan hermeneutika sebagai metode penafsiran bibel. Schleiermacher adalah seorang Kristen lulusan sebuah kampus Kristen yang cenderung liberal. Seiring berjalannya waktu, muncullah liberalis-liberalis baru yang memperkenalkan hermeneutika sebagai metode penafsiran al-Qur’an. Mantan rektor IAIN Sunan Kalijaga, Amin Abdullah, amat gigih dalam menggunakan hermeneutika sebagai tafsir al-Qur’an. Bahkan beberapa liberalis mengatakan bahwa al-Qur’an hanyalah muntaj tsaqafi (produk budaya) dari bangsa Arab yang dibawa oleh Muhammad. Kebanyakan liberalis ‘membebek’ para ‘syaikh’nya di Barat untuk merusak cara pandang muslim terhadap al-Qur’an.

Sejatinya dalam menafsirkan al-Qur’an, seorang mufasir dituntut menguasai beberapa cabang ilmu yang diperlukan untuk menafsirkan al-Qur’an. Artinya, dalam menafsirkan tidak boleh menggunakan logika pribadi tak berdasar, perasaan, atau spekulasi-spekulasi yang hanya berwujud subjektivitas. Metode tafsir yang digunakan harus sesuai dengan tuntunan yang ada. Seorang mufasir juga bukan hanya dituntut menguasai ilmu bidang tafsir saja, tetapi juga harus shalih kepribadiannya.

Jika kita mempelajari ulumul qur’an, kita akan menemukan tentang i’jazul qur’an (mukjizat al-Qur’an) yang akan menerangkan keajaiban-keajaiban al-Qur’an dibanding kitab-kitab lainnya. Al-Qur’an adalah kitab wahyu yang diucapkan langsung oleh Allah, kemudian disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam. Tafsir qur’an adalah penjelasan makna kata-kata dalam susunan kalimatnya, dan makna susunan ayat-ayatnya menurut apa adanya. Untuk mengetahui cara penafsiran, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa apa yang dikemukakan oleh al-Qur’an hendaknya dipelajari secara ijmal (garis besar) hingga hakikat yang dikemukakan oleh Qur’an itu menjadi jelas.

Jika hermeneutika ditarik untuk menjadi metode penafsiran qur’an, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang rancu. Karena hermeneutika berangkat dari budaya yang jauh dari budaya keislaman. Pertama kali digunakan sebagai metode penafsiran, hermeneutika digunakan sebagai metode penafsiran Kitab Bibel. Bila kita menilik kepada i’jazul qur’an, maka metode ini akan terpatahkan, karena kualitas Qur’an jelas di atas kitab-kitab lainnya. Kemudian, Al-Qur’an adalah kitab suci, sangatlah tidak selevel dengan sastra Yunani kuno yang ditafsirkan dengan metode hermeneutika. Hermeneutika menitikberatkan penafsiran secara kontekstual, bukan tekstual. Padahal, segala hal yang otentik haruslah berawal dengan penafsiran yang tekstual, bukan kontekstual terlebih dahulu. Dapat dikatakan, bahwa hermeneutika hanyalah penafsiran sesuai pandangan dan nalar si penafsir.

Hermeneutika justru memunculkan relativitas tafsir. Tafsir menjadi ambigu dan membingungkan kaum muslimin dalam memahami al-Qur’an secara jelas. Lebih parah lagi, para pengguna hermeneutika biasanya mencurigai para ulama terdahulu. Mereka menuduh ulama kolot, dan kuno.

Tafsir qur’an memiliki dua sifat. Relatif (zhanni) dan tetap (qath’i). Ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang sulit ditafsirkan secara jelas, para ulama pun berbeda pendapat akan hal-hal tersebut, namun bersepakat bahwa memang ayat-ayat mutasyabihat bersifat multi-tafsir. Sedangkan ayat-ayat muhkamat bersifat jelas, ulama bersepakat dalam penafsirannya, dan biasanya menjadi dalil-dalil hukum. Tidak semua ayat bersifat relatif, dan tidak semua ayat bersifat pasti. Semua ada porsinya, agar manusia terus belajar dan mengambil hikmah yang terkandung dalam setiap ayat-ayat-Nya. Al-Qur’an bukanlah kitab yang tunduk dan mengikuti perkembangan budaya, justru Qur’anlah yang merombak budaya, dan menuntun manusia kepada budaya yang lebih baik.

Referensi

Al-Qur’an al-Kariim

Abu Zayd, Nasr Hamid, Teks Otoritas Kebenaran (terj), Yogyakarta: LkiS, 2003

Adian Husaini & Abdurrahman Al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, Depok: Gema Insani Press, 2007

Husaini, Adian, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam, Depok: Gema Insani Press, 2009

Salim, Fahmi, Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal, Depok: Gema Insani Press, 2011

Shalahuddin, Henri, Al-Qur’an Dihujat, Depok: Gema Insani Press

Syamsuddin, Sahiron, Hermeneutika dan Pengembangan ‘Ulumul Qur’an, Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009


[1] Adan Husaini & Abdurrahman Al-Baghdadi. Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an. Depok: Gema Insani Press. 2007.

[2] Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin. Hermeneutika dan Pengembangan ‘Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Pesantren Nawasea Press. 2009.

“Metode Tafsir Hermeneutika: Modern atau Ngawur?”

Oleh: Zaky Ahmad Rivai (Pengkaderan KAMMI Komisariat UIN SunanKalijaga)

Disampaikan dalam diskusi pekanan Kajian Keilmuan KAMMI Komisariat UGM Sabtu, 1 Maret 2014 (admin)

Intelektual Profetik: Membaca Pemikiran Kuntowijoyo

–Tulisan ini adalah notulensi dari diskusi rutin departemen Kajian Keilmuan KAMMI Komisariat UGM yang dilaksanakan tanggal 7 Februari 2014 di Komisariat KAMMI UGM.–

 

Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh atas penjelajahan nalar akal

Gerakan Intelektual Profetik merupakan gerakan yang mengembalikan secara tulus dialektika wacana pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal

Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik[1]

 

Gambar

Intelektual Profetik sebagai salah satu dari empat paradigma KAMMI adalah sesuatu yang seharusnya tidak asing bagi kader KAMMI. Selayaknya paradigma, Dakwah Tauhid, Intelektual Profetik, Sosial Independen, dan Gerakan Ekstraparlementer sudah semestinya menjadi cara pandang kader KAMMI ketika bertindak sebagai seorang kader KAMMI. Baca lebih lanjut

Technical meeting 050313

BARANG YANG WAJIB UNTUK DIBAWA SAAT DM 1 MOH. HATTA (8-10 MARET 2013):

*perkap pribadi:

1. Alat Ibadah (mukena/sarung, Qur’an, Al- Ma’tsurat)

2. Alat Tulis (buku, pulpen)

3. Pakaian untuk 3 hari dua malam, sepatu, jas hujan/payung, slayer, senter

4. Peralatan MCK

5. Konsumsi (air 1,5L nonAqua/Nestle, Roti sobek 2 buah untuk makan malam)

6. Lain-lain: gelas plastik, tas kresek besar, autan

*penugasan untuk dikumpulkan di hari H:

1. menghafal Q.S 33:35, visi, misi, dan paradigma KAMMI

2. menulis essay bertema “Terobosan Baru Konsep Ekonomi Makro-Mikro sebagai Penunjang Kemandirian Ekonomi Bangsa” 2 halaman A4

3. merangkum salah satu buku berikut dalam 2 halaman A4 :

  • Risalah Pergerakan 1
  • Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim
  • Komitmen Muslim Sejati

4. bahan makanan: singkong 0,5kg, beras 1kg, mie goreng, tempe 2 bungkus @ Rp 2500,00, telur ayam 3 butir (jaga jangan sampai pecah), jahe 2 sachet, susu kental manis putih 2 bungkus

5. Perkap lain: kertas plano 3 lembar, spidol whiteboard 1 buah

6. Infaq Rp 15.000,00

TEKNIS PEMBERANGKATAN

Titik Kumpul : Masjid Mardliyah (Selatan RS Sardjito)pukul 15.45

pemberangkatan shift 1 pukul 16.00

pemberangkatan shift 2 pukul 18.30

Soal Tes Tulis DM 1 Moh. Hatta

Nama                         :

Fakultas/Jur/angk    :

No HP/email             :

 

Bismillahirrahmannirrahim

SOAL TEST TERTULIS (untuk dikerjakan di rumah dalam waktu 60 menit tanpa membuka catatan atau bantuan lain dalam bentuk apapun dan dikumpulkan selambat-lambatnya  pada saat wawancara DM 1)

DM1 KAMMI KOMISARIAT UGM

 

  1. Tuliskan kalimat syahadat dan jelaskan maknanya
  2. Apabila sobat ditanya “Dimana Allah?”apa jawaban sobat? sebutkan dasar/landasannya dari Al-Quran/sunnah yang shahih!
  3. Apa yang sobat ketahui tentang Syumuliyatul Islam?
  4. Sebagai seorang intelektual muda, dalam pandangan sobat seperti apakah sosok pemuda muslim yang ideal?
  5. Ketika mendengar kata POLITIK, hal apa yang terbesit dipikiran sobat pertama kali? Lantas bagaimana kedudukan POLITIK  dalam Islam?
  6. Uraikan dinamika permasalahan terorisme yang terjadi di Indonesia dan apa solusi permasalahannya?
  7. Apa saja info yang sobat ketahui tentang KAMMI? (boleh menyebutkan agenda,alur kaderisasi,prestasi,dll)
  8. Apa harapan sobat terhadap KAMMI?
  9. Jelaskan yang sobat ketahui dari tokoh-tokoh berikut: minimal 5

-Muhammad AlFatih   -Ahmadinejad                        -Agus Salim

-Imam AlGhozali          -Hugo Chavez                       -Syahrir

-Umar bin Abdul Aziz             -Muhammad Natsir   -HOS Tjocroaminoto

-Hasan AlHudaibi        -Tan Malaka               -Buya Hamka

-Ceng Ho                      -Ali Syariati                -Samaoen