Dilema Kebijakan KIK

Dilema Epistemologi dan Ontologi KIK
Oleh: Ikhsanudin (Tekim ’07)
(President Partai Bunderan UGM)
Kampus educopolis merupakan kampus yang dicita-citakan banyak pihak termasuk mahasiswa. Kampus educopolis layaknya sebuah negara kota (polis) yang pernah terjadi di Yunani atau merujuk pada negara Madinah sewaktu zaman Nabi, yang penuh dengan kenyamanan dan kesejahteraan, namun educopolis terbatas dalam hal pendidikan. Suasana yang terbangun dari konsep educopolis mengisyaratkan kenyamanan belajar yang harus diciptakan di lingkungan kampus.
Secara substansi epistemologi kami sangat menyepakati apa yang menjadi tujuan educopolis. Siapapun pasti ingin merasa nyaman ketika sedang belajar, tidak terganggu oleh siapapun. Dan pada titik ini, kami menghargai Rektorat sebagai pemangku kebijakan di UGM, yang menginginkan terciptanya suatu kondisi pembelajaran yang nyaman dengan mewujudkan kampus educopolis.
Hukum yang benar, adalah hukum yang hidup. Peraturan yang benar adalah peraturan yang hidup. Hidup dengan konsepsi tujuan yang hendak dicapai, menyelesaikan suatu masalah tanpa menimbulkan permasalahan lain. Karena amat banyak hukum yang mati di negeri tercinta ini. Literal teks menjadi landasan yang kadang bisa mengatur suatu masalah agar teratur, tetapi ketika berebenturan dengan sisi lain, ternyata menimbulkan suatu ketimpangan di sisilain itu.
Ketepatan penerjemahan suatu tujuan yang hendak dicapai ke peraturan untuk diberlakukan adalah sebuah keniscayaan. Ketepatan menetapkan peraturan untuk bisa sesuai dengan substansi awal tujuannya adalah harga mati.
KIK (Kartu Identitas Kendaraan) adalah salah satu bentuk peraturan yang menjadi cerminan dari tujuan kampus untuk bisa membuat kampus menjadi tempat yang nyaman dengan membatasi kendaraan yang masuk ke UGM. Peraturan tentang KIK tertuang dalam Peraturan Rektor No. 408/P/SK/HT/2010 tentang Pemberlakuan KIK. Bagi warga kampus yang tidak mempunyai KIK harus membayar disinsentif sesuai dengan jenis kendaraanya seperti warga masyarakat luar kampus.
Secara umum memang dengan pemberlakuan KIK keamanan kendaraan cukup terjamin, pencurian kendaraan bisa dihindari, polusipun bisa jadi terhindari di kawasan UGM, walaupun polusi hanya berpindah tempat di tempat lain, sehingga kenyamanan bisa dirasakan. Akan tetapi beberapa pihak, seperti mereka para mahasiswa memandang dari sudut pandang lain yang menghasilkan sebuah kesimpulan yang berseberangan dalam hal pengaruh kebijakan.
Mulai dengan alasan kebijakan KIK akan membatasi masyarakat yang memasuki UGM sehingga hilang nuansa kerakyatannya, padahal tanah UGM adalah ‘Sultan Ground’, yang seharusnya rakyat manapun boleh mengaksesnya. Pihak rektorat akan mengcounternya dengan alas an keamanan. Apakah salah jika, masyarakat yang tidak ada urusan dengan UGM coba dibatasi aksesnya?. Alasan yang rasional.
Alasan kedua rekan-rekan mahasiswa, adalah bahwa KIK adalah komersialisasi kampus. Rektorat mencoba mengkomersilkan UGM dengan tarif parkir. Alasan kedua ini juga dibantah dengan rektorat dengan argumentasi konkrit. Membuat KIK hanya 5 ribu rupiah, setelah itu bebas keluar masuk UGM tanpa membayar bulanan. Mereka yang membayar bulanan hanya mahasiswa yang mempunyai motor kedua, bukan motor yang pertama, bagi angkatan 09/10 keatas. Dan mereka yang punya mobil saja. Adalah wajar ketika yang kena tarif KIK adalah motor kedua, dan meka yang kaya. Seorang pembawa mobil pasti mereka yang kaya. Kalau ditanya mengenai pembedaan angkatan, maka jawabnya, ‘Bukankah ekonomi mahasiswa baru kuat-kuat?’. Secara perdebatan komersialisasi, sepertinya bisa diredam.
Sebagai seorang intelektual, mahasiswa dituntut untuk berfikir objektif dalam memandang persoalan. Adanya KIK harus bisa dikaji secara komprehensif. Tidak boleh hanya asal tidak sepakat dan mencari celah. “KIK adalah akal-akalan rektor, untuk menghaslkan uang”. Pernyataan seperti itu bisa jadi benar, tetapi kalau melihat fakta peraturan, nampaknya motif untuk benar-benar membuat kampus educopolis terasa sangat kental. Tinggal warga kampus membuat KIK, beres urusan.
Begitupula dengan rektorat. Dialog dengan elemen lain, dan mencari titik tengah dua sudut pandang yang berbeda perlu dilakukan. Rektorat memandang dari perspektif educopolis, dan mahasiswa yang kontra, memandang dari perspektif kerakyatan, dan komersialisasi kampus. Masing-masing ada benarnya. Tinggal manakah yang punya derajat kebenaran tertinggi, dilihat dari objektifitas data.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah, bahwasannya kawasan di UGM tidak semuanya sama secara sifat. Fakultas teknik berbeda dengan kampus-kampus di Bulaksumur, begitupula Fakultas Kedokteran, Farmasi, MIPA, dan Peternakan, serta KH. Itu artinya penerapan suatu peraturan juga harus mengikuti lokal wisdom di masing-masing tempat.
Penulis mempunyai pendapat bahwa KIK boleh saja diberlakukan dengan modifikasi beberapa peraturan. Diantaranya masyarakat luar UGM boleh masuk ke UGM dengan karcis yang tidak berbayar, dengan menanyai kepentingannya. Bagi mahasiswa yang mempunyai motor di deteksi dari awal masuk dan langsung dibuatkan KIK tanpa biaya pembuatan. Karena merupakan bagian dari fasilitas kampus.
Titik tengah, ‘ummatan wasaton’, adalah sebuah landasan dalam membuat peraturan. Sehingga sebuah esensi tujuan peraturan tercapai tanpa mengorbankan hal lain. Dalam pembuatan kebijakan tidak bisa strik hitam dan putih. Kebijakan ini ada atau tidak sama sekali. Tetapi merupakan perpaduan dari semua kepentingan yang terintegrasi menjadi peraturan yang substantif dan hidup.
KIK boleh berjalan dengan catatan, perlu ada modifikasi di dalamnya sehingga nilai kerakyatan dipertahankan dan komersialisasi kampus tidak ada dalam peraturan ini. Salam kerakyatan dan anti-komersialisme!

Advertisements
Uncategorized

2 thoughts on “Dilema Kebijakan KIK

  1. Pingback: coreng di wajah Pak Sudjarwadi « sepuluh potong cokelat

  2. Pingback: Coreng di Wajah Pak Sudjarwadi « Advokasi Teknik UGM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s