Nirmana Revolusi Kaum Muda*)

Yusuf Maulana**)

“Mereka yang terlebih dahulu merangkul perubahan yang perlu

akan menjadi pihak yang paling merasakan manfaatnya.”

John Naisbitt

Hasil jajak pendapat publik Kompas (21 Maret 2011) tentang kiprah kalangan muda menarik untuk dicermati. Meski menyoroti kritis sikap yang berorientasi pada diri sendiri dan gaya hidup kaum muda, publik masih menaruh harapan pada organisasi pemuda dan mahasiswa sebagai pengawal upaya reformasi bangsa di tengah melemahnya elemen kekuatan politik yang lain.

Kesimpulan hasil jajak pendapat itu memang tidak menghasilkan fakta baru, selain hanya menguatkan kembali harapan publik yang selama ini hadir kepada aktivisme kaum muda di negeri ini. Secara normatif, publik acap kali memandang kaum muda (mahasiswa khususnya) sebagai kekuatan penting perubahan. Publik menaruh kepercayaan pada gerakan kaum muda dibandingkan elemen sipil lain, apalagi kekuatan politik formal, dalam proses perubahan sosial. Kendati di tubuh kaum muda mengalami permasalahan, publik sepertinya optimis mereka mampu menyelesaikannya.

Sayangnya, optimisme dan kepercayaan penuh itu tidak selalu disertai empati atas masalah internal di tubuh kaum muda. Padahal, empati kepada penurunan aktivisme kaum muda bermakna untuk koreksi kaum muda juga, yakni menyadarkan bahwa arah gerakan kaum muda tidak sekadar perjuangan utopia dan nirmana, angan-angan ideal.

Agen Revolusi

Alih-alih bisa membayangkan sebuah bentuk dan komposisi yang diidealkan dari hasil perjuangannya, sering kali gerakan kaum muda sekadar berpuas setelah merekonstruksi tatanan yang dilawannya. Kaum muda di tanah air memiliki pengalaman dalam menurunkan orde penguasa; hanya saja untuk menyusun tatanan ideal setelah keberhasilan penggulingan penguasa, ini yang masih tanda tanya.

Belajar dari pengalaman pula kaum muda mestinya tidak lagi berpuas dengan hasil yang pernah dicapai di masa lalu karena arah sejarah ke depan ditentukan dengan cara pandang dan bergerak hari ini. Bila sekadar berpuas diri dengan harapan publik, ini mengulangi ritus pemujaan identitas kaum muda yang sering dipandang sebagai kelas pembawa perubahan.

Bersama kelas menengah yang lain, kaum muda diidentifikasi sebagai agen potensi revolusi. Persepsi yang sudah seperti mitos ini tampaknya juga susah ditepiskan ada di benak responden jajak pendapat Kompas di atas. Ditambah lagi, asa itu hadir bersamaan dengan periode pelaksanaan jajak pendapat yang dilakukan setelah keberhasilan kaum muda di Tunisia dan Mesir melakukan revolusi menurunkan penguasa setempat. Maka, makin menguat mitos itu, meski harus dibaca pula sebagai sebuah harapan (baru) publik kepada kaum muda di tanah air. Itu sebabnya di balik angka masih lebih banyaknya (51,7%) dalam publik jajak pendapat yang yakin bahwa masuknya sejumlah aktivis mahasiswa ke dalam partai politik dapat memperbaiki kondisi internal parpol tersebut.

Merangkul Perubahan

Mandulnya gerakan kaum muda pascareformasi 1998 sering kali dikaitkan dengan tidaknya ada musuh bersama. Keberhasilan kamu muda di Tunisia dan Mesir dalam hal adanya musuh bersama ini memiliki kemiripan dengan Indonesia pada 1998. Dengan praktik kekuasaan yang secara formal demokratis sekaligus terbuka bagi keterlibatan kaum muda (korporatisme), gerakan kaum muda kesulitan mencari dan mendefinisikan musuh bersama itu. Perulangan seperti reformasi 1998 atau gerakan kaum muda di Timur Tengah tidak akan terjadi bila masalah tiadanya musuh bersama ini selalu dijadikan alasan.

Sejatinya, musuh bersama itu ada di depan mata. Korupsi, kemiskinan, pengangguran, pencurian kekayaan alam, merupakan sebagian isu yang bisa menjadi penggerak revolusi bersama kaum muda dan masyarakat. Sayangnya, isu-isu ini tercecer dan praktis diambil alih secara mandiri oleh masyarakat. Tanpa harus melibatkan mahasiswa pun masyarakat bisa turun menyampaikan aspirasinya. Penumpulan gerakan kian kritis tatkala sistem pendidikan mengharuskan mahasiswa lebih banyak berkutat dengan urusan perkuliahan.

Dalam atmosfer demikian lahirlah gerakan kaum muda yang tidak benar-benar representasi kekuatan ideal. Konsekuensinya, aktivisme kaum muda lebih sering terlihat sebagai sebuah aksi dangkal dan formalitas berdemonstrasi. Saat yang sama, membayangkan Indonesia ideal seperti impian yang bukan wilayah mereka, kendati mereka mampu. Padahal, kekeliruan gerakan kaum muda sebelumnya berlalu adalah, meminjam khazanah seni, berkarya nirmana. Berkarya nirmana hanyalah sekadar belajar menata rupa untuk memperoleh keindahan tanpa bermaksud untuk mewujudkannya menjadi suatu bentuk benda tertentu (Sadjiman E. Sanyoto, 2009:7).

Gerakan kaum muda sering kali berorientasi menurunkan kekuasaan, tanpa berniat membangun model; setelah kekuasaan itu turun siapa dan sistem apa yang bakal menggantikannya. Karya gerakan kaum muda sekadar keindahan mempertahankan mitos kaum pembawa perubahan; tidak berpretensi lebih jauh dalam mengawal pentas politik yang turut dibangunnya. Kaum muda sepertinya puas dengan merancang keteraturan titik, garis, warna dan bidang sosial, tetapi apriori untuk membayangkan bangunan yang ideal hingga bisa dinikmati rakyat.

Di sinilah arti penting kaum muda memiliki kemampuan membayangkan dan membentuk model ideal seraya menyiapkan konsekuensi dari setiap perubahan yang diandilinya. Meminjam kalimat John Naisbitt (2006), “Mereka yang terlebih dahulu merangkul perubahan yang perlu akan menjadi pihak yang paling merasakan manfaatnya.” Fakta sering dikhianatinya mereka seusai berandil dalam pergantian rezim, harusnya menjadi pelajaran penting kaum muda. Revolusi tidak boleh lagi menjadi nirmana, perubahan tanpa angan-angan.

Dalam konteks pergerakan KAMMI, dengan rekam jejak selama 12 tahun turut meretas demokratisasi negeri ini, semestinya KAMMI memainkan peranan penting yang lebih signifikan menuju ke perubahan ketimbang sekadar merespons isu-isu temporer lokal, nasional maupun internasional. Di sinilah tantangan kecerdasan aktivis KAMMI diuji. Mengemban amanah tak berarti sebuah petaka, tetapi bisa juga menempatkan kita pada panggung sejarah nan mulia. Tinggal persoalannya apakah amanah itu akan membawa pahala ataukah petaka.[]


*) Disampaikan pada Diskusi KAMMI Komisariat UGM, Jumat 10 Juni 2011.

**) Terlibat di pengurus harian KAMMI DI Yogyakarta periode 2000-2001.

Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s