Bisakah Aktivis KAMMI Berpikir?

Berpikir, dan Berpoles: Restorasi ala KAMMI

Yusuf Maulana *)

Bisakah aktivis KAMMI berpikir? Suka atau tidak,  pertanyaan ini pernah menjadi menu rutin yang setia masuk  ke telinga saya. Ini  kejadian tujuh tahun silam.

Sembilan tahun kemudian, ketika saya sudah tidak lagi berpredikat aktivis KAMMI, pertanyaan tersebut sepertinya belum pupus. Kali ini yang mengajukannya bukan  kawan sebaya saya (dari organ lain), melainkan adik dua tingkat di bawah kawan saya tersebut. Ia mengajukannya ketika kami sama-sama berada di stan pameran buku penerbit yang diidentikkan liberal-sekuler.

Ia sepertinya melihat hal mustahak begitu saya ada di stan itu.  Bukan hanya  karena ia tahu saya berasal dari organisasi apa, namun juga saya hari itu memang memakai jaket yang berlogo KAMMI.“Lho, kok bisa nyampe di sini  Mas,” ujarnya tanpa basi-basi.  (Saya tahu, dari untaian kata-katanya ada  nuansa sinisme.)

Ia mengajukan nada keheranan itu bukanlah tanpa asbab. Artinya, ia mengajukan pertanyaan itu mewakili refleksi pengamatan dan pengalaman batinnya dengan teman-teman sekampusnya; di antaranya: aktivis KAMMI. Internalisasinya inilah yang kemudian dideduktifkan pada saya.

Saya kemudian merenung: bagaimana pencapaian proyek intelektualisme yang  dilakukan oleh KAMMI akan berjalan dengan matang apabila stereotipe pihak bukan KAMMI masih belum kunjung  berubah?

Sejujurnya, saya ragu apakah intensitas perdebatan di lingkup KAMMI saat  gagah menapaki proyek itu (9 tahun silam, sejak 2004-ed.) sudah meresonansi hingga  ke luar KAMMI. Jika memang gaung dan getarnya belum terasa, menurut saya, itu bukanlah sebuah proyek yang gagal. Ia hanya sebuah kegagalan dalam meyakinkan persepsi orang  lain pada KAMMI. Ya, betapa tidak,  KAMMI yang  sudah begitu berantusias mengubah persepsi diri  soal otak dan buku (bahan bacaan, ed.) ternyata —dengan prestasi yang kemudian dihasilkannya—diposisikan belum sanggup (setidaknya dalam persepsi orang di luar KAMMI) secara de facto sebagai gerakan intelektual.

Memang menyakitkan persepsi itu. Persepsi yang secara halus menyatakan bahwa aktivis KAMMI tak banyak yang bisa berpikir  Memang menyinggung dan menjadi evaluasi kita atas upaya keras yang telah dilakukan selama ini.  Akan tetapi, inilah  pertarungan persepsi yang belum kuasa  disisir hingga rapi oleh aktivis-aktivis KAMMI, apabila  proyek yang dilakukan itu sebatas  interupsi peradaban KAMMI.

Ya, yang saya maksudkan adalah: untuk meyakinkan kawan gerakan lain atau lebih luas publik, KAMMI perlu kerja ekstra untuk mendesain sebuah proyek  bernama pencerahan intelektual. Dengan segala suka-dukanya. Dengan segala periuk caci-nestapa-puji-kritik. Dengan segala tatih-gulana-seliro. Dengan segala eksperimen-observasi-analisis-diagnosis. Dengan segala ketegaran-keradikalan-kejumawaan.

Maka, ketika sebuah karya bernama proyek intelektual profetik justru “dimatikan” (oleh aktivis KAMMI sendiri-ed.) hanya karena dipandang  terlalu elitis,  ini merupakan sebuah afirmasi bahwa KAMMI masih menjadi bocah yang  terlalu dini dan terlalu muda untuk mengenal apa itu (maaf) masturbasi. Masturbasi intelektual.

Justru, para aktivis KAMMI seharusnya tidak boleh  berhenti hingga pada titik ketika mereka dipandang gagal oleh sanubari mereka; oleh rekan-rekan mereka. Aktivis KAMMI  jangan beretrospeksi, menoleh  ke belakang hingga melakukan pembalikan kerja-kerja besar, hanya karena mereka memosisikan dirinya di cermin: sebagai bocah yang terlalu genit untuk menjadi dewasa.

Jika “kegenitan” itu tidak diteruskan, stigma KAMMI  tidak bisa berpikir justru makin mengokohkan benak kawan organ lain. Ketika menuliskan esai ini, saya mencoba memosisikan ruang batin saya  sebagai kawan saya: Rijal al-Imam (saya sampai detik ini meyakini, ialah sesungguhnya visoner sejati KAMMI, setidaknya hingga sepuluh tahun mendatang, Insya Allah!). Saya yakin, ia tengah memendam amarah yang tak kalah  dengan Pram ketika karya-karyanya dirampas antek Soeharto. “Aku marah dibakar benci, akibat ideku diempaskan ke tembok. Justru setelah dipuja,” kira-kira begitu saya meracau, mencoba memahami isi pikiran Rijal.

Ia, dengan keterbatasan waktu dan fisiknya, telah berkorban untuk  mengiblatkan agar kawan-kawan KAMMI berpikir. Bukan semata untuk menyungging nyinyiran kawan di kampus. Bukan semata pujian banal dari orang. Saya tahu persis apa di  kepala Rijal: Sang Khalik saja; tidak lebih. Jihad intelektualismenya memang belum sempurna. Karenanya intelektualitas itu niscaya untuk dipugar, dipercantik, dikosmopolitkan, tetapi bukan untuk… direstorasi seperti terjadi saat ini!

Saat ini seperti pemunduran waktu yang melampaui rindu abid ketika pergantian alaf  tempo hari. Ini seperti memutar jam saat gerilya Ikhwan ash-Shafa (kelompok pencerahan intelektual Islam zaman Abbasiyah)  dikebiri para  priyayi sultani. Ini seperti membalik telapak Al-Kindi, Ibn Sina, Hayyan, Ibn Thufail, Al-Khawarizm, dan segenap generasi intelektual muslim lain dengan telapak para rezim yang lebih  mengedepankan pisau dan badik jauh di depan pena dan buku.

Apa pasal? KAMMI yang dianggap genit ternyata peka dengan lingkungan hingga ia kemudian bersolek untuk tampil molek, berupaya memikat sang pengkritik untuk kemudian tampil apa adanya. Lacurnya, “apa adanya”  itu justru adalah kejumudan yang dulu pernah ingin diubah. Bagi kawan organ lain, yang paham arti upaya Rijal (dan generasi yang ingin menjaga nafas intelektualitas KAMMI pasca-Rijal), saya yakin akan senafas dalam protes saya: ini kerja kemunduran, memutar kerja peradaban setengah langkah ke belakang sekalipun dengan  dalih  karena “bola lampu” Rijal dan generasi pasca-nya kurang bisa  dikonsumsi aktivis KAMMI karena tidak bisa menyalakan dan menyalakkan ruang ‘jihad’ mereka.

Ini, lagi-lagi membuat saya harus bersiap membuka mata-hati-telinga, seraya melapangkan dada, tatkala ada kawan organ lain yang berujar:  kenapa KAMMI sekarang begitu  bukan lagi begini; sayang ya, kalau sekarang KAMMI  menjadi begini tidak seperti begitu di era lalu.

Soal memendam hal seperti itu tidaklah sulit. Yang saya cemasi—karena bisa jadi saya tak terperi untuk memprediksi—adalah bagaimana nasib KAMMI nanti  setelah KAMMI menjadi organ yang karut-marut dengan obsesi mendewasakan diri namun lebih sering merestorasi, alih-alih mereformulasi dan meresonansi jati diri. Apalagi KAMMI tengah bersiap meniti masuk usia sekolah yang diharuskan mengenal kali dan bagi. []

*) Pernah aktif di KAMMI Daerah Yogyakarta; esais cum editor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s