Intelektual Profetik: Membaca Pemikiran Kuntowijoyo

–Tulisan ini adalah notulensi dari diskusi rutin departemen Kajian Keilmuan KAMMI Komisariat UGM yang dilaksanakan tanggal 7 Februari 2014 di Komisariat KAMMI UGM.–

 

Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh atas penjelajahan nalar akal

Gerakan Intelektual Profetik merupakan gerakan yang mengembalikan secara tulus dialektika wacana pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal

Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik[1]

 

Gambar

Intelektual Profetik sebagai salah satu dari empat paradigma KAMMI adalah sesuatu yang seharusnya tidak asing bagi kader KAMMI. Selayaknya paradigma, Dakwah Tauhid, Intelektual Profetik, Sosial Independen, dan Gerakan Ekstraparlementer sudah semestinya menjadi cara pandang kader KAMMI ketika bertindak sebagai seorang kader KAMMI.

Paradigma intelektual profetik ini tidak begitu saja dilahirkan. Paradigma KAMMI yang jauh lahir setelah berdirinya KAMMI, yaitu tahun 2004, tentu saja merupakan hasil dari pemikiran panjang tentang KAMMI itu sendiri. Intelektual profetik ini dicetuskan berdasarkan pemikiran Kuntowijoyo tentang Ilmu Sosial Profetik. Sementara asal usul Ilmu Sosial Profetik ini adalah buku Muhammad Iqbal yang berjudul Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam.

Meskipun menjadi salah satu paradigma KAMMI, tidak menjamin semua kader KAMMI memahami apa itu intelektual profetik apatah lagi berusaha untuk membumikan intelektual profetik itu sendiri. Karena itu, pemantik diskusi kali ini, yaitu Fachry Aidulsyah (Kadept KP KAMMDA Sleman) memulai diskusi dengan menjabarkan satu per satu pengertian dari intelektual dan profetik, karena kedua kata ini adalah kata-kata terpisah yang memiliki arti tersendiri, dan membangun arti ketika bergabung.

‘Intelektual’ terjadi karena adanya ketidakadilan terhadap seseorang. Dalam sejarahnya, intelektual itu lahir sebagai pembelaan terhadap seorang jendral bernama Deyfrus yang akan dihukum mati tanpa pengadilan. Saat itulah lahir intelektual yang menuntut keadilan. Gramsci, Weber, dan para sosiolog lainnya menyebut bahwa intelektual adalah seseorang yang berkontribusi, berpikir lebih, mampu membaca realitan dan bermanfaat bagi orang lain.

Namun saat ini intelektual seakan dipahami hanya sebagai seorang aktor kampus ataupun akademisi. Memang kampus adalah tempat untuk melahirkan para intelek, namun intelektual tidak sama dengan aktor kampus apalagi akademisi. Seorang intelektual bisa lahir di mana saja, karena ia adalah setiap orang yang mampu berkontribusi dan memberikan manfaat bagi sekitarnya.

Seorang intelektual mencari pemecahan atas masalah yang terjadi di sekelilingnya. Sementara seorang intelegensia merespon pemikiran agen intelektual dan bersama-sama mencari pemecahan dari suatu masalah. Karena itu, seorang agen intelektual harus bekerja sama dengan intelegensia untuk mencari pemecahan dari suatu permasalahan.

Ali Syari’ati dalam Wibisono (Artikel “Membumikan Intelektual Profetik”)[2] membahasakan intelektual ini sebagai raushan fikr, yaitu seseorang yang mengikuti ideologi yang dipilihnya secara sadar. Ideologi ini yang akan membuatnya sadar akan realitas sosial dan menuntutnya untuk menyelesaikan permasalahan sosial dengan ideologi yang telah dipilihnya. Dalam kata lain, seorang intelektual memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat tempat ia berada.

Sedangkan profetik berasal dari kata prophetic  yang berarti kenabian. Kenabian di sini menekankan pada aspek ketuhanan yang dibutuhkan oleh seorang agen intelektual. Seorang agen intelektual tanpa aspek ketuhanan tidak akan berarti apa-apa. Mereka mampu memecahkan permasalahan  sosial yang ada namun pada akhirnya terbentur pada pertanyaan untuk apa mereka memecahkan permasalahan sosial tersebut. Selama ini para filsuf ilmu sosial mencoba untuk memahami aspek teologis dari kacamata rasionalitas namun mereka pada akhirnya gagal karena tidak mampu membahasnya. Sementara Islam memberikan warna baru dalam aspek teologis ini. Prof. Al-Tarsam mengatakan bahwa dalam membangun peradaban Islam, Rasulullah memulainya dengan membangun fondasi pandangan hidup dan teologis ummat Islam (periode Makkah). Sementara ketika ummat Islam hijrah ke Madinah, aspek ibadah dan keilmuan dikembangkan untuk memperkuat aspek teologis yang sebelumnya telah diletakkan. Aspek teologis yang dibangun di awal ini jelas menggambarkan pentingnya aspek ketuhanan dalam bermasyarakat, sehingga Rasulullah memulai fondasi peradaban dari aspek ini.

Ilmu ketika disandingkan dengan aspek teologis akan bernilai ibadah. Ibadah, yang terdiri dari ibadah maghdhah dan ghairu maghdhah, pada dasarnya adalah dua yang saling berkait. Ibadah transedental seperti shalat, bukan sekedar hubungan vertikal seorang hamba terhadap Tuhannya, tapi juga hubungan horizontal seseorang dengan masyarakatnya. Sebagaimana dalam surat Al-Ma’un dijelaskan bahwa orang yang baik sholatnya adalah orang yang juga baik secara sosial. Begitu juga dengan zakat. Secara zhahir balasan dari zakat adalah hubungan antara hamba dengan Tuhannya, namun dampak dari zakat dirasakan oleh seluruh masyarakat, bukan hanya individu.

Seorang intelektual profetik harus bisa memadukan antara unsur intelektual dengan unsur ketuhanan. Bagaimana setiap aspek ilmu yang dipelajari harus memiliki aspek-aspek transedental. Islam tidak pernah memiliki kontradiksi dengan sains sehingga setiap cabang ilmu yang ada selalu memiliki sudut pandang ketuhanan. Penyatuan antara intelektual dan profetik inilah yang bisa menjadi jawaban untuk setiap permasalahan sosial yang ada. Permasalahan sosial yang bukan hanya menuntut untuk dipecahkan, tapi juga mengetahui kenapa ia harus dipecahkan.

Permasalahannya adalah kini ummat Islam semakin jauh dari tradisi keilmuan. Ranah-ranah diskusi mulai ditinggalkan dan hanya terpaku pada bangku-bangku perkuliahan. Ini juga fenomena yang ditemui pada kader-kader KAMMI, di mana tugas akademik menghalangi dari kegiatan keilmuan yang lebih membuka kran untuk mencari permasalahan bersama. Sudah tak perlu ditanyakan lagi apa tugas kader KAMMI yang menyandang paradigma ‘Intelektual Profetik’ di punggungnya, membumikan kembali tradisi keilmuan dan menjadi intelektual profetik.


[1] Garis-Garis Besar Haluan Organisasi, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Muktamar VI Makassar 7 Desember 2008, Pasal 7, Hal 2

[2] Wibisono, Adhe Nuansa. Membumikan Intelektual Profetik. Artikel tanpa tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s