Metode Tafsir Hermeneutika: Modern atau Ngawur?

Gambar

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’andan Kami pula-lah yang memeliharanya”. (QS. Al-Hijr: 9).

Hermeneutika berhasil memunculkan kontroversi, ketika beberapa akademisi yang notabene lulusan pesantren ataupun kampus Islam mempromosikan hermeneutika sebagai metode tafsir baru yang lebih modern dan fleksibel. Para akademisi di bidang ilmu tafsir dan ilmu al-Qur’an sudah mempelajarinya, bahkan mempraktikannya untuk menafsirkan kitab yang terjaga keasliannya hingga hari kiamat. Beberapa kampus Islam sudah menjadikan hermeneutika sebagai mata kuliah wajib untuk jurusan yang berkaitan dengan tafsir.

Secara harfiah, hermeneutika berarti tafsir. Secara etimologis, istilah hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuin yang berarti menafsirkan[1]. Disinyalir istilah ini merujuk kepada Dewa Hermes dalam mitologi Yunani, yang dikenal sebagai penyampai pesan-pesan dewa kepada manusia.

Dalam Sahiron Syamsuddin (2009) disebutkan bahwa hermeneutika sudah disinggung dalam filsafat Yunani kuno. Objek penafsiran berupa kitab suci, puisi, ataupun mitos[2]. Awalnya hermeneutika ini digunakan untuk menafsirkan teks-teks sastra Yunani kuno. karena hermeneutika dipandang sebagai metode tafsir yang bersifat luas, bukan hanya yang tertulis, tetapi juga yang tidak tertulis. Awalnya, Friedrich Schleiermacher –dijuluki Bapak Hermeneutika Modern- menggunakan hermeneutika sebagai metode penafsiran bibel. Schleiermacher adalah seorang Kristen lulusan sebuah kampus Kristen yang cenderung liberal. Seiring berjalannya waktu, muncullah liberalis-liberalis baru yang memperkenalkan hermeneutika sebagai metode penafsiran al-Qur’an. Mantan rektor IAIN Sunan Kalijaga, Amin Abdullah, amat gigih dalam menggunakan hermeneutika sebagai tafsir al-Qur’an. Bahkan beberapa liberalis mengatakan bahwa al-Qur’an hanyalah muntaj tsaqafi (produk budaya) dari bangsa Arab yang dibawa oleh Muhammad. Kebanyakan liberalis ‘membebek’ para ‘syaikh’nya di Barat untuk merusak cara pandang muslim terhadap al-Qur’an.

Sejatinya dalam menafsirkan al-Qur’an, seorang mufasir dituntut menguasai beberapa cabang ilmu yang diperlukan untuk menafsirkan al-Qur’an. Artinya, dalam menafsirkan tidak boleh menggunakan logika pribadi tak berdasar, perasaan, atau spekulasi-spekulasi yang hanya berwujud subjektivitas. Metode tafsir yang digunakan harus sesuai dengan tuntunan yang ada. Seorang mufasir juga bukan hanya dituntut menguasai ilmu bidang tafsir saja, tetapi juga harus shalih kepribadiannya.

Jika kita mempelajari ulumul qur’an, kita akan menemukan tentang i’jazul qur’an (mukjizat al-Qur’an) yang akan menerangkan keajaiban-keajaiban al-Qur’an dibanding kitab-kitab lainnya. Al-Qur’an adalah kitab wahyu yang diucapkan langsung oleh Allah, kemudian disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam. Tafsir qur’an adalah penjelasan makna kata-kata dalam susunan kalimatnya, dan makna susunan ayat-ayatnya menurut apa adanya. Untuk mengetahui cara penafsiran, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa apa yang dikemukakan oleh al-Qur’an hendaknya dipelajari secara ijmal (garis besar) hingga hakikat yang dikemukakan oleh Qur’an itu menjadi jelas.

Jika hermeneutika ditarik untuk menjadi metode penafsiran qur’an, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang rancu. Karena hermeneutika berangkat dari budaya yang jauh dari budaya keislaman. Pertama kali digunakan sebagai metode penafsiran, hermeneutika digunakan sebagai metode penafsiran Kitab Bibel. Bila kita menilik kepada i’jazul qur’an, maka metode ini akan terpatahkan, karena kualitas Qur’an jelas di atas kitab-kitab lainnya. Kemudian, Al-Qur’an adalah kitab suci, sangatlah tidak selevel dengan sastra Yunani kuno yang ditafsirkan dengan metode hermeneutika. Hermeneutika menitikberatkan penafsiran secara kontekstual, bukan tekstual. Padahal, segala hal yang otentik haruslah berawal dengan penafsiran yang tekstual, bukan kontekstual terlebih dahulu. Dapat dikatakan, bahwa hermeneutika hanyalah penafsiran sesuai pandangan dan nalar si penafsir.

Hermeneutika justru memunculkan relativitas tafsir. Tafsir menjadi ambigu dan membingungkan kaum muslimin dalam memahami al-Qur’an secara jelas. Lebih parah lagi, para pengguna hermeneutika biasanya mencurigai para ulama terdahulu. Mereka menuduh ulama kolot, dan kuno.

Tafsir qur’an memiliki dua sifat. Relatif (zhanni) dan tetap (qath’i). Ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang sulit ditafsirkan secara jelas, para ulama pun berbeda pendapat akan hal-hal tersebut, namun bersepakat bahwa memang ayat-ayat mutasyabihat bersifat multi-tafsir. Sedangkan ayat-ayat muhkamat bersifat jelas, ulama bersepakat dalam penafsirannya, dan biasanya menjadi dalil-dalil hukum. Tidak semua ayat bersifat relatif, dan tidak semua ayat bersifat pasti. Semua ada porsinya, agar manusia terus belajar dan mengambil hikmah yang terkandung dalam setiap ayat-ayat-Nya. Al-Qur’an bukanlah kitab yang tunduk dan mengikuti perkembangan budaya, justru Qur’anlah yang merombak budaya, dan menuntun manusia kepada budaya yang lebih baik.

Referensi

Al-Qur’an al-Kariim

Abu Zayd, Nasr Hamid, Teks Otoritas Kebenaran (terj), Yogyakarta: LkiS, 2003

Adian Husaini & Abdurrahman Al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, Depok: Gema Insani Press, 2007

Husaini, Adian, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam, Depok: Gema Insani Press, 2009

Salim, Fahmi, Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal, Depok: Gema Insani Press, 2011

Shalahuddin, Henri, Al-Qur’an Dihujat, Depok: Gema Insani Press

Syamsuddin, Sahiron, Hermeneutika dan Pengembangan ‘Ulumul Qur’an, Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009


[1] Adan Husaini & Abdurrahman Al-Baghdadi. Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an. Depok: Gema Insani Press. 2007.

[2] Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin. Hermeneutika dan Pengembangan ‘Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Pesantren Nawasea Press. 2009.

“Metode Tafsir Hermeneutika: Modern atau Ngawur?”

Oleh: Zaky Ahmad Rivai (Pengkaderan KAMMI Komisariat UIN SunanKalijaga)

Disampaikan dalam diskusi pekanan Kajian Keilmuan KAMMI Komisariat UGM Sabtu, 1 Maret 2014 (admin)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s