ISLAM DAN SEKULARISME Oleh : Mohamad Yudha Prawira

 

 ISLAM DAN SEKULARISME[1]

Oleh : Mohamad Yudha Prawira[2]

 

[1] Disampaikan pada diskusi “Islam dan Sekularisme”. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) UGM, Yogyakarta, 20/3/2014.

[2] Mahasiswa Fakultas Hukum UGM, Yogyakarta.

            Pada abad ke-16 masehi bangsa Eropa berada di dalam era kegelapan yang cukup panjang. Peperangan yang terjadi akibat dari perbedaan pandangan antara Katolik dan Protestan menyebabkan gelombang wabah kelaparan melanda diseluruh wilayah Eropa. Hal ini kemudian menjadi pemicu dari timbulnya sebuah perjanjian yang dikenal The Westpahlia Treaty. Sebuah perjanjian yang mengakhiri Perang Eropa selama 30 tahun, berhasil memancangkan tonggak sejarah bernegara secara modern dalam konsepnation-state dan menjadi permulaan bagi terjadinya sistem hubungan internasional secara modern, yang disebut sebagaiWestphalian System”.[1]

            Terdapat dua hal yang menjadi pokok dalam perjanjian westphalia terhadap budaya sekularisme yangb timbul dikemudian hari, yakni (1) adanya pemisahan kepentingan keagamaan dengan kepentingan negara/kerajaan; (2) perjanjian ini merupakan tonggak dari timbulnya konsep negara modern (nation-state). Pemisahan unsur keagamaan dengan kerajaan ini dilakukan dengan menolak kepentingan gereja dan para paus terhadap kepentingan kerajaan. Lebih jauh lagi, dua hal pokok perjanjian westphalia itu menimbulkan adanya pemisahan unsur-unsur negara (nation-state) dengan unsur-unsur agama.

            Kenyataan yang terjadi di Eropa tersebut tentu sangat relevan, mengingat latar belakang sejarah dan juga pertentangannya terhadap kaum gereja. Tetapi kemudian yang patut dipertanyakan adalah apakah umat Islam pernah mengalami hal demikian sepanjang sejarah?

            Sistem negara modern (nation-state) yang saat ini tercipta adalah hasil dari pengembangan dari westphalian system yang memberikan batasan-batasan wilayah bangsa-bangsa eropa yang kemudian berkembang menjadi sebuah negara. Berbeda dengan pandangan umat muslim yang memiliki konsep Ad-Din dalam memandang sebuah negara, ia masih berpedoman kepada konsep tradisional kerajaan yang belum menemukan titik temu terhadap konsep negara modern saat ini. Umat muslim seakan kehilangan pedoman pengetahuan terhadap konsep negara modern. Kita kini tidak mampu untuk mengembangkan pengetahuan dalam menyesuaikan antara konsep Ad-Din Islam dengan konsep negara modern. Sehingga mau tidak mau kita terjerumus kedalam konsep negara modern ala Eropa.

            Berbeda dengan konsep nation-state, Ad-Din memiliki arti yang menyeluruh yakni mengandung arti peraturan dan tata cara hidup, dimana seseorang benar-benar merendahkan diri di hadapan penguasa tunggal semesta alam. Kemudian berlanjut dengan sikap taat dan mengikuti serta mengikat hidupnya dengan peraturan serta tata cara tersebut. Semua sikapnya hanya bertujuan mengharapkan keridhaan, kemuliaan serta balasan yang baik, dan takut jika peraturan tersebut dilanggar. Maka akan mengakibatkan kenistaan serta akan mengakibatkan balasan yang jelek dikemudian hari.[2] Mungkin kalimat (state) mendekati makna Ad-Din, namun untuk menyamakan dengan arti Ad-Din masih harus diperluas lagi pengertian dan maknanya.[3]

            Di negara Indonesia sendiri, paham antara negara Islam dan negara sekuler selalu menimbulkan perdebatan. Semenjak Indonesia merdeka perdebatan antara golongan Islamis dan Nasionalis kerap terjadi. Hingga mencapai puncaknya dengan pencabutan sila pertama yakni “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha esa”. Perubahan sila pertama tersebut tentu menimbulkan dampak yang sangat besar bagi kehidupan umat muslim di Indonesia. Perjuangan golongan Islamis untuk menegakkan syariat Islam gagal tercapai yang disebabkan oleh hadangan dari umat muslim itu sendiri.

            Perlu diketahui bahwa paham sekularisme sebenarnya telah mengakar di Indonesia sejak lama. Menurut Yudi Latif, proses sekularisme yang terjadi di Indonesia itu sudah dilakukan semenjak zaman Imperialisme Belanda. Pendapat ini juga sesuai dengan pendapat Abdul Kadir Audah yang mengatakan Islam dan Imperialisme akan selalu berlawanan. Dalam usaha melakukan penjajahannya untuk menghancurkan kerajaan-kerajaan Islam dahulu, para penjajah telah menyerang pemahaman umat Islam dengan mengajarkan ajaran sekularisme. Seorang menteri Kerajaan Inggris (Gladstone) diwaktu ia berdiri dimuka Majelis Umum berkata: Sesungguhnya telapak kaki Imperium Inggris tidak bisa tegak dengan kokohnya dalam suatu Negeri Islam, selama Quran masih ada[4]. Inilah yang menjadi pandangan bahwa umat muslim tidak mudah untuk dijajah ataupun dihancurkan, sehingga mereka menyerang umat muslim dari dalam melalui kepemahaman. Dalam menggapai usahanya tersebut, selain menghancurkan umat muslim dari dalam, kaum Imperalis juga membonceng kaum zending (misionaris) demi membantu mereka dalam mempermudah penjajahan terhadap bangsa-bangsa muslim.

            Di Indonesia sendiri proses sekularisasi telah dilakukan sebelum negara ini terbentuk melalui empat bidang pokok dalam kehidupan bermasyarakat. Yudi Latif mengatakan ada empat bidang dalam Polity-Expansion Secularization yang dilakukan kaum imperalisterhadap bangsa Indonesia yakni :

  1.                   Sekularisasi Hukum
  2.                   Sekularisasi Pendidikan
  3.                   Sekularisasi Struktur Sosial
  4.                   Sekularisasi Ekonomi[5]

            Keempat bidang tersebut telah merubah pandangan bangsa Indonesia yang menyebabkan Bangsa ini jauh dari agamanya. Terdapat tembok pembatas yang memisahkan ajaran Islam dengan umat muslim di negara-negara Sekuler. Pemerintah muslim justru memerangi atau mengingkari ajaran-ajaran Islam yang telah menjadi agama mayoritas mereka. Menurut Abdul Kadir Audah penyebab dari pengingkaran ajaran Islam yang dilakukan oleh pemerintah muslim terjadi akibat dua faktor utama yakni: (1) Penguasanya takut tidak duduk berkuasa lagi, (2) Masyarakat Muslimnya tidak paham terhadap hukum-hukum Islam[6].

            Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim kita harus kembali bangkit memberikan pemahaman yang sebenarnya mengenai konsep Ad-Din dan juga mengembalikan pengetahuan-pengetahuan Islam terutama hukum Islam. Tanpa konsep keduanya umat Islam hanya akan terpecah belah antara golongan Islam dan golongan Islam sekuler. wallahu a’lam          

[1]Takdir Ali Mukti. “Sistem Pasca Westphalia, Interaksi Transnasional dan Paradiplomacy”. (https://www.academia.edu/3780172/SISTEM_PASCA_WESTPHALIA_INTERAKSI_TRANSNASIONAL_DAN_PARADIPLOMACY)

[2] Abu A’la Al Maududi. 2002. “4 Istilah dalam Al Qur’an”. Pustaka Azzam: Jakarta. Hal. 151.

[3] Ibid,. Hal.152.

[4] Abdul Kadir Audah. 1974. “Islam dan Perundang-Undangan”. Bulan Bintang: Jakarta. Hal.167.

[5] Zainun Kamal, dkk. 2005. “Islam Negara & Civil Society: Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer”. Paramadina: Jakarta. Hal. 124-141.

[6] Abdul Kadir Audah. 1974. “Islam dan Perundang-Undangan”. Bulan Bintang: Jakarta. Hal. 177.

Metode Tafsir Hermeneutika: Modern atau Ngawur?

Gambar

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’andan Kami pula-lah yang memeliharanya”. (QS. Al-Hijr: 9).

Hermeneutika berhasil memunculkan kontroversi, ketika beberapa akademisi yang notabene lulusan pesantren ataupun kampus Islam mempromosikan hermeneutika sebagai metode tafsir baru yang lebih modern dan fleksibel. Para akademisi di bidang ilmu tafsir dan ilmu al-Qur’an sudah mempelajarinya, bahkan mempraktikannya untuk menafsirkan kitab yang terjaga keasliannya hingga hari kiamat. Beberapa kampus Islam sudah menjadikan hermeneutika sebagai mata kuliah wajib untuk jurusan yang berkaitan dengan tafsir.

Secara harfiah, hermeneutika berarti tafsir. Secara etimologis, istilah hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuin yang berarti menafsirkan[1]. Disinyalir istilah ini merujuk kepada Dewa Hermes dalam mitologi Yunani, yang dikenal sebagai penyampai pesan-pesan dewa kepada manusia.

Dalam Sahiron Syamsuddin (2009) disebutkan bahwa hermeneutika sudah disinggung dalam filsafat Yunani kuno. Objek penafsiran berupa kitab suci, puisi, ataupun mitos[2]. Awalnya hermeneutika ini digunakan untuk menafsirkan teks-teks sastra Yunani kuno. karena hermeneutika dipandang sebagai metode tafsir yang bersifat luas, bukan hanya yang tertulis, tetapi juga yang tidak tertulis. Awalnya, Friedrich Schleiermacher –dijuluki Bapak Hermeneutika Modern- menggunakan hermeneutika sebagai metode penafsiran bibel. Schleiermacher adalah seorang Kristen lulusan sebuah kampus Kristen yang cenderung liberal. Seiring berjalannya waktu, muncullah liberalis-liberalis baru yang memperkenalkan hermeneutika sebagai metode penafsiran al-Qur’an. Mantan rektor IAIN Sunan Kalijaga, Amin Abdullah, amat gigih dalam menggunakan hermeneutika sebagai tafsir al-Qur’an. Bahkan beberapa liberalis mengatakan bahwa al-Qur’an hanyalah muntaj tsaqafi (produk budaya) dari bangsa Arab yang dibawa oleh Muhammad. Kebanyakan liberalis ‘membebek’ para ‘syaikh’nya di Barat untuk merusak cara pandang muslim terhadap al-Qur’an.

Sejatinya dalam menafsirkan al-Qur’an, seorang mufasir dituntut menguasai beberapa cabang ilmu yang diperlukan untuk menafsirkan al-Qur’an. Artinya, dalam menafsirkan tidak boleh menggunakan logika pribadi tak berdasar, perasaan, atau spekulasi-spekulasi yang hanya berwujud subjektivitas. Metode tafsir yang digunakan harus sesuai dengan tuntunan yang ada. Seorang mufasir juga bukan hanya dituntut menguasai ilmu bidang tafsir saja, tetapi juga harus shalih kepribadiannya.

Jika kita mempelajari ulumul qur’an, kita akan menemukan tentang i’jazul qur’an (mukjizat al-Qur’an) yang akan menerangkan keajaiban-keajaiban al-Qur’an dibanding kitab-kitab lainnya. Al-Qur’an adalah kitab wahyu yang diucapkan langsung oleh Allah, kemudian disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasalam. Tafsir qur’an adalah penjelasan makna kata-kata dalam susunan kalimatnya, dan makna susunan ayat-ayatnya menurut apa adanya. Untuk mengetahui cara penafsiran, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa apa yang dikemukakan oleh al-Qur’an hendaknya dipelajari secara ijmal (garis besar) hingga hakikat yang dikemukakan oleh Qur’an itu menjadi jelas.

Jika hermeneutika ditarik untuk menjadi metode penafsiran qur’an, maka kita akan mendapatkan sesuatu yang rancu. Karena hermeneutika berangkat dari budaya yang jauh dari budaya keislaman. Pertama kali digunakan sebagai metode penafsiran, hermeneutika digunakan sebagai metode penafsiran Kitab Bibel. Bila kita menilik kepada i’jazul qur’an, maka metode ini akan terpatahkan, karena kualitas Qur’an jelas di atas kitab-kitab lainnya. Kemudian, Al-Qur’an adalah kitab suci, sangatlah tidak selevel dengan sastra Yunani kuno yang ditafsirkan dengan metode hermeneutika. Hermeneutika menitikberatkan penafsiran secara kontekstual, bukan tekstual. Padahal, segala hal yang otentik haruslah berawal dengan penafsiran yang tekstual, bukan kontekstual terlebih dahulu. Dapat dikatakan, bahwa hermeneutika hanyalah penafsiran sesuai pandangan dan nalar si penafsir.

Hermeneutika justru memunculkan relativitas tafsir. Tafsir menjadi ambigu dan membingungkan kaum muslimin dalam memahami al-Qur’an secara jelas. Lebih parah lagi, para pengguna hermeneutika biasanya mencurigai para ulama terdahulu. Mereka menuduh ulama kolot, dan kuno.

Tafsir qur’an memiliki dua sifat. Relatif (zhanni) dan tetap (qath’i). Ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang sulit ditafsirkan secara jelas, para ulama pun berbeda pendapat akan hal-hal tersebut, namun bersepakat bahwa memang ayat-ayat mutasyabihat bersifat multi-tafsir. Sedangkan ayat-ayat muhkamat bersifat jelas, ulama bersepakat dalam penafsirannya, dan biasanya menjadi dalil-dalil hukum. Tidak semua ayat bersifat relatif, dan tidak semua ayat bersifat pasti. Semua ada porsinya, agar manusia terus belajar dan mengambil hikmah yang terkandung dalam setiap ayat-ayat-Nya. Al-Qur’an bukanlah kitab yang tunduk dan mengikuti perkembangan budaya, justru Qur’anlah yang merombak budaya, dan menuntun manusia kepada budaya yang lebih baik.

Referensi

Al-Qur’an al-Kariim

Abu Zayd, Nasr Hamid, Teks Otoritas Kebenaran (terj), Yogyakarta: LkiS, 2003

Adian Husaini & Abdurrahman Al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an, Depok: Gema Insani Press, 2007

Husaini, Adian, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam, Depok: Gema Insani Press, 2009

Salim, Fahmi, Kritik Terhadap Studi Al-Qur’an Kaum Liberal, Depok: Gema Insani Press, 2011

Shalahuddin, Henri, Al-Qur’an Dihujat, Depok: Gema Insani Press

Syamsuddin, Sahiron, Hermeneutika dan Pengembangan ‘Ulumul Qur’an, Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press, 2009


[1] Adan Husaini & Abdurrahman Al-Baghdadi. Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an. Depok: Gema Insani Press. 2007.

[2] Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin. Hermeneutika dan Pengembangan ‘Ulumul Qur’an. Yogyakarta: Pesantren Nawasea Press. 2009.

“Metode Tafsir Hermeneutika: Modern atau Ngawur?”

Oleh: Zaky Ahmad Rivai (Pengkaderan KAMMI Komisariat UIN SunanKalijaga)

Disampaikan dalam diskusi pekanan Kajian Keilmuan KAMMI Komisariat UGM Sabtu, 1 Maret 2014 (admin)

Intelektual Profetik: Membaca Pemikiran Kuntowijoyo

–Tulisan ini adalah notulensi dari diskusi rutin departemen Kajian Keilmuan KAMMI Komisariat UGM yang dilaksanakan tanggal 7 Februari 2014 di Komisariat KAMMI UGM.–

 

Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang meletakkan keimanan sebagai ruh atas penjelajahan nalar akal

Gerakan Intelektual Profetik merupakan gerakan yang mengembalikan secara tulus dialektika wacana pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang universal

Gerakan Intelektual Profetik adalah gerakan yang mempertemukan nalar akal dan nalar wahyu pada usaha perjuangan perlawanan, pembebasan, pencerahan, dan pemberdayaan manusia secara organik[1]

 

Gambar

Intelektual Profetik sebagai salah satu dari empat paradigma KAMMI adalah sesuatu yang seharusnya tidak asing bagi kader KAMMI. Selayaknya paradigma, Dakwah Tauhid, Intelektual Profetik, Sosial Independen, dan Gerakan Ekstraparlementer sudah semestinya menjadi cara pandang kader KAMMI ketika bertindak sebagai seorang kader KAMMI. Baca lebih lanjut

Technical meeting 050313

BARANG YANG WAJIB UNTUK DIBAWA SAAT DM 1 MOH. HATTA (8-10 MARET 2013):

*perkap pribadi:

1. Alat Ibadah (mukena/sarung, Qur’an, Al- Ma’tsurat)

2. Alat Tulis (buku, pulpen)

3. Pakaian untuk 3 hari dua malam, sepatu, jas hujan/payung, slayer, senter

4. Peralatan MCK

5. Konsumsi (air 1,5L nonAqua/Nestle, Roti sobek 2 buah untuk makan malam)

6. Lain-lain: gelas plastik, tas kresek besar, autan

*penugasan untuk dikumpulkan di hari H:

1. menghafal Q.S 33:35, visi, misi, dan paradigma KAMMI

2. menulis essay bertema “Terobosan Baru Konsep Ekonomi Makro-Mikro sebagai Penunjang Kemandirian Ekonomi Bangsa” 2 halaman A4

3. merangkum salah satu buku berikut dalam 2 halaman A4 :

  • Risalah Pergerakan 1
  • Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim
  • Komitmen Muslim Sejati

4. bahan makanan: singkong 0,5kg, beras 1kg, mie goreng, tempe 2 bungkus @ Rp 2500,00, telur ayam 3 butir (jaga jangan sampai pecah), jahe 2 sachet, susu kental manis putih 2 bungkus

5. Perkap lain: kertas plano 3 lembar, spidol whiteboard 1 buah

6. Infaq Rp 15.000,00

TEKNIS PEMBERANGKATAN

Titik Kumpul : Masjid Mardliyah (Selatan RS Sardjito)pukul 15.45

pemberangkatan shift 1 pukul 16.00

pemberangkatan shift 2 pukul 18.30

Soal Tes Tulis DM 1 Moh. Hatta

Nama                         :

Fakultas/Jur/angk    :

No HP/email             :

 

Bismillahirrahmannirrahim

SOAL TEST TERTULIS (untuk dikerjakan di rumah dalam waktu 60 menit tanpa membuka catatan atau bantuan lain dalam bentuk apapun dan dikumpulkan selambat-lambatnya  pada saat wawancara DM 1)

DM1 KAMMI KOMISARIAT UGM

 

  1. Tuliskan kalimat syahadat dan jelaskan maknanya
  2. Apabila sobat ditanya “Dimana Allah?”apa jawaban sobat? sebutkan dasar/landasannya dari Al-Quran/sunnah yang shahih!
  3. Apa yang sobat ketahui tentang Syumuliyatul Islam?
  4. Sebagai seorang intelektual muda, dalam pandangan sobat seperti apakah sosok pemuda muslim yang ideal?
  5. Ketika mendengar kata POLITIK, hal apa yang terbesit dipikiran sobat pertama kali? Lantas bagaimana kedudukan POLITIK  dalam Islam?
  6. Uraikan dinamika permasalahan terorisme yang terjadi di Indonesia dan apa solusi permasalahannya?
  7. Apa saja info yang sobat ketahui tentang KAMMI? (boleh menyebutkan agenda,alur kaderisasi,prestasi,dll)
  8. Apa harapan sobat terhadap KAMMI?
  9. Jelaskan yang sobat ketahui dari tokoh-tokoh berikut: minimal 5

-Muhammad AlFatih   -Ahmadinejad                        -Agus Salim

-Imam AlGhozali          -Hugo Chavez                       -Syahrir

-Umar bin Abdul Aziz             -Muhammad Natsir   -HOS Tjocroaminoto

-Hasan AlHudaibi        -Tan Malaka               -Buya Hamka

-Ceng Ho                      -Ali Syariati                -Samaoen

TES TERTULIS SERTIFIKASI AB1 KAMMI KOMISARIAT UGM

Bismillahirrahmaanirrahiim
Dimohon berdo’a dan meluruskan niat dahulu sebelum melakukan tes wawancara.
Waktu  maksimal tes tulis adalah 120 menit dengan ketentuan peserta diperbolehkan membuka buku, catatan, atau tulisan lain.

I. AQIDAH
1. Sebutkan dan jelaskan prinsip-prinsip tauhid beserta konsekwensinya sebagai jiwa dan paradigma dalam merasa,berfikir, dan bertindak (1)
2. Menurut antum, seperti apakah aqidah yang benar dan bersih itu? Dan bagaimanakah aqidah yang bersih dan benar itu tercerminkan dalam sikap, pemikiran, dan tindakan? (2)
3. Pernahkah antum bersumpah selain atas nama Allah? Mengapa kita harus bersumpah atas nama Allah? (4)
4. Apa yang antum pahami tentang ikhlas? Seberapa seringkah antum berniat hanya karena Allah? (4)
5. Bagaimanakah fenomena perdukunan modern saat ini menurut antum? Apa pendapat antum tentang ramalan nasib, ramalan jodoh dan rizki, jimat, sihir, santet, tenaga dalam, ritual di kuburan, susuk, rajah dengan ayat al Qur’an? (S)
6. Tolong jelaskan keyakinan antum tentang jin. (S)
7. Apa yang antum ketahui tentang ihsan? Tolong jelaskan. Bagaimanakah antum menerapkannya selama ini? (S)
8. Dimanakah Allah? Apakah Allah menyertai kita? Tolong jelaskan. (S)

II. FIKRAH DAN MANHAJ
1. Tolong terangkan tentang dakwah dan fiqh dakwah. (11)
2. Apa saja yang antum ketahui tentang dakwah pasca kampus? Bagaimana antum menyiapkannya? (keluarga, karir, usaha, pendidikan, dsb) (11)
3. Bagaimanakah intensitas keterlibatan antum dalam halaqah pekanan antum? Bagaimana frekuensi kehadiran, ketepatan waktu, adab majlis, kepemimpinan, ketsiqahan, dan pengorbanan antum dalam halaqah? Bagaimana sikap murobbi kepada antum dan sebaliknya? (14)
4. Apa yang antum lakukan ketika antum kecewa atau tidak sepakat dengan jama’ah atau organisasi? (S)
5. Bagaimanakah dakwah fardliyah antum selama ini? (S)

III. AKHLAQ
1. Sejauh mana keseriusan antum dalam hal menepati janji selama ini? apa yang antum lakukan ketika tidak bisa menepati janji? (16)
2. Dalam sisi apa saja antum mampu disiplin? Dan dalam sisi apa saja antum belum bisa disiplin? (17)
3. Apa yang antum pahami tentang aurat? Sejauh mana komitmen antum menjaga dan menutupinya? (18)
4. Apakah antum memiliki masalah dalam bergaul? Bagaimanakah antum menjaga interaksi ikhwan dan akhwat selama ini? (19)
5. Bagaimana interaksi antum dengan orangtua, tetangga, keluarga, dan masyarakat? (21)

IV. IBADAH
1. Bagaimanakah sholat antum? Sejauh mana kehusyu’annya? Seberapa sering ketepatan waktunya dan berjama’ahnya? (24)
2. Apa dalil berpuasa Ramadhan? Sudahkah antum melaksanakannya dengan baik? (25)
3. Bagaimanakah cara antum mengeluarkan zakat? (26)
4. Seberapa banyak dan sering tilawah antum? Coba baca 1 halaman ini dengan tajwid, makharijul huruf, dan waqaf yang benar. (27)
5. Berapa lembarkah hafalan Al Qur’an antum? Sudah adakah 1 Juz yang lancar?(28)
6. Seberapa seringkah antum qiyamullail dalam sepekan selama 3 bulan terakhir? (29)
7. Bagaimanakah zikir rutin antum? Seperti apakah zikir dan do’a ba’da sholat antum? (30)
8. Seberapa seringkah antum berdo’a? Biasanya kapan saja? Bagaimanakah pendapat antum tentang al ma’tsurat? Seberapa seringkah antum melaksanakannya? (30)

V. TSAQAFAH KEISLAMAN
Jelaskan kepada saya tentang Islam. (31)

VI. WAWASAN KEINDONESIAAN
Tolong sebutkan dan jelaskan dengan singkat 10 sektor strategis bangsa menurut antum. (38)
VII. KEPAKARAN DAN PROFESIONALITAS
1. Apa yang antum ketahui tentang Islamisasi Ilmu? Bagaimana antum mewujudkannya dalam spesifikasi ilmu yang antum dalami? (39)
2. Apa yang antum pahami tentang entrepreneurship? Sejauh mana tekad dan aksi antum untuk menjadi entrepreneur? (40)
3. Seberapa seringkah antum menunda pelaksanaan hak orang lain? bagaimanakah kiat-kiat yang sudah antum lakukan untuk menghindarinya? (42)
4. Bagaimanakah kondisi perkuliahan antum? IPK sekarang? (S)
VIII. KEMAMPUAN SOSIAL POLITIK
1. Jelaskan secara singkat peta politik di fakultas antum dan di UGM. (43)
2. Bagaimana pendapat antum tentang demokrasi? Apakah ada kaitannya dengan dakwah? Tolong jelaskan. (44)
3. Apa yang antum pahami tentang sistem mobilisasi, media, logistik, networking, diplomasi, isolasi. Komando. Kendali, kordinasi, komunikasi, informasi dalam politik? (46)
4. Bagaimana pendapat antum tentang aksi? Jelaskan argumen atau landasannya. Apa yang antum ketahui tentang manajemen aksi? (S)

IX. PERGERAKAN DAN KEPEMIMPINAN
1. Apa saja yang antum ketahui tentang KAMMI? Apa saja perangkat keorganisasian yang dimiliki KAMMI? (47)
2. Terangkan alur kaderisasi yang ada di KAMMI. (47)
3. Apa alasan antum untuk ikut DM2? (S)

X. PENGEMBANGAN DIRI
1. Sudahkah antum mempelajari karakter dan diri antum sendiri? Tolong jelaskan karakter dan kepribadian antum. Apa saja potensi yang antum miliki, dan bagaimanakah cara antum meningkatkannya? (51)
2. Apa cita-cita antum, dan bagaimana cara antum meraihnya? Jelaskan life plan antum. Dan apa yang akan antum sumbangkan untuk Islam? (51)
3. Bagaimana cara antum untuk memotivasi diri, menjaga dan menguatkan mental antum? Bagaimana cara antum untuk menghindari kefuturan dan kejumudan? (51)
4. Seperti apakah antum dalam memenej waktu, mengelola masalah-masalah antum, kuliah, dan amanah-amanah antum? (51)
5. Seperti apakah antum dalam mengelola kamar, pakaian, keuangan, inventaris pribadi, penampilan, kebersihan diri, antum? (52)
6. Seberapa seringkah antum sakit? Punya penyakit apa saja? Bagaimanakah cara antum menjaga kesehatan diri? (54)
7. Bagaimanakah cara antum menguatkan fisik antum? (54)
8. Bagaimana cara belajar antum yang paling efektif? Seberapa seringkah antum belajar? Seberapa banyak dan sering antum membaca buku kuliah dan buku-buku non kuliah? (S)
9. Bagaimanakah antum dalam memuhasabah dan mengevaluasi diri? Seberapa seringkah antum beristighfar dan mohon ampun?(S)

 Tahap Pendaftaran DM 2 Sleman

  • Tahap Pendaftaran
  1. Kader yang bersedia mengikuti DM 2 diwajibkan melakukan pendaftaran  dengan:
    1. Menyertakan surat mandat dari Ketua Komisariat  atau KAMDA setempat (dengan catatan ketua komisariat sudah AB 2)
    2. Menyertakan hasil sertifikasi IJDK AB1
    3. Membawa curriculum vitae (sesuai form)
      1. Melampirkan surat kesediaan menjadi pengurus  KAMMI  Daerah, Wilayah atau pimpinan  KAMMI  Komisariat (sesuai form)
      2. Melampirkan surat pernyataan untuk mengikuti mekanisme pengkaderan di KAMMI (sesuai form)
      3. Melampirkan mutaba’ah yaumiyah bulan januari-februari (sesuai form)
      4. Membawa pas foto berwarna ukuran 3×4 sebanyak 2 lembar
      5. Membuat essay dengan memilih salah satu topik :

1)     pemikiran Tokoh Islam

-          Muhammad Abduh

-          Jamaludin Al Afgani

2)     Strategi Kepemimpinan

-          Umar Bin Khatab

-          Umar Bin Abdul Aziz

3)     paradigma gerakan KAMMI

-          Dakwah Tauhid

-          Intelektual Profetik

-          Sosial Independen

-          Ektra Parlementer

4)     isu Kontemporer

-          pendidikan

-          politik

-          ekonomi

-          korupsi

panjang essay  minimal 3 halaman; dengan ketentuan font 12;Times New Roman ; Margin 4 4 3 3; spasi 1.5; Alignment Justify; ukuran kertas A4

  1. Membuat resensi minimal 2 lembar  dari buku-buku di bawah ini (pilih salah satu) :
  • Manhaj Haroki-Syaikh Munir Muhammad Al Ghadban
  • Risalah Pergerakan-Hasan Al Banna
  • Api Sejarah-Ahmad Mansur Suryanegara
  • Gerakan Modern Islam-Deliar Noer
  • Ma’alim fi thoriq-Sayyid Qutb
  • Menuju Jama’atul Muslimin-Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir
  • KAMMI dan Pergulatan Reformasi-Mahfud Sidiq
  • Ijtihad Membangun Basis Gerakan-Amin Sudarsono

Point a,b,c,d,e,f,g,h dimasukkan dalam stopmap diberi KETERANGAN nama dan asal Komisariat dan dikumpulkan @ sekre KAMMI Daerah Sleman (Jl.Kaliurang Km 6 Gang Pandega Duksina nomor 11, Telp. +6283867017535)

Akhwat : merah

Ikhwan : hijau

  1. Melakukan aktivitas sebagai berikut :

Ruhiyah

  1. Sholat Berjamaah minimal 3x/hari
  2. Tilawah 1 juz perhari
  3. Menghafal juz 30
  4. Sholat Malam minimal 2 kali per pekan
  5. Dhuha minimal 4 kali per pekan
  6. Shaum Sunnah minimal 1 kali per pekan
  7. Al Ma’tsurat minimal 1 kali per hari

Jasadiyah

Olah raga minimal 10 menit per hari

Fikriyah

  • Tugas Membaca buku (wajib) :

1)     Manhaj Haroki

2)     Menuju Jama’atul Muslimin

3)     Ijtihad Membangun Basis Gerakan

  • Tugas membaca buku (pilihan) :

Judul Buku

Penulis

Al Wala Wal Bara Muhammad bin Sa’id Al-Qathani
Aqidah Islamiyah Sayyid sabiq
Petunjuk jalan Sayyid Qutb
Siroh Nawawiyah Ibnu Hisyam/Mubarakfury
Zionisme: Gerakan Menaklukan Dunia Z.A. Maulani
Islamisasi Pengetahuan Isma’il Razi al-Faruqi
Kapita Selekta KAMMI Rijalul Imam
Komitmen Muslim Terhadap Harakah Islam Fathi Yakan
Minhajul Muslim (Ensiklopedi Muslim) Abu Bakr Jabir Al-Jazairi
Madarijus Saihin Ibnu Qayyim Al Jauziyah
Fiqih Sunnah Sayyid Sabiq
Ibadah dalam Islam Yusuf Qardhawi
Fiqih Dakwah Jum’ah Amin
Al Islam Said Hawa
Pergulatan ideologi partai politik di Indonesia S. Kirbiantoro, Dody Rudianto
Karakteristik Umat Terbaik Prof DR Ali Abdul Halim Mahmud
Rahasia Sukses Orang-Orang Sukses FBI Ruslanputra
One Purpase Milion Ways Carol Addrienne
Memahami Ilmu Politik Ramlan Surbakti
Re-Code Your Change DNA Rhenald Kasali
Skill With People Les Giblin
Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal Dr Shadiq Amin
Membina Angkatan Mujahid Said Hawa
KAMMI dan Pergulatan Reformasi Mahfudz Shidik
Menjadi Manusia Pembelajar Andrias Harefa
Seven Habits Stephen Covey’s
Ijtihad Membangun Basis Gerakan Amin Sudarsono
Api Sejarah Ahman Masur Suryanegara
Gerakan Modern Islam Deliar Noer
Risalah Pergerakan Hasan Al-Banna

 

  1. Membayar biaya dauroh sebesar Rp 100.000 ke Bendahara Panitia DM 2 : Dini Marhani. Pembayaran bisa diangsur sampai pra DM 2 .