Oleh: KAMMI Komisariat Universitas Gadjah Mada | Januari 27, 2010

Anda Keliru, Hamid Karzai! Taliban Tak Dapat Dibeli!

Satu lagi gagasan konyol yang dikeluarkan Hamid Karzai, presiden Afghanistan.

Dia mengatakan kepada BBC tentang rencananya menawarkan uang banyak dan pekerjaan untuk para mujahidin Taliban sehingga mereka akan kembali kepada kehidupan yang “normal”.

Dia menawarkan Mujahidin Taliban untuk berkiprah di pemerintahannya, dan pembayaran yang diberikannya, tentu saja berasal dari “bantuan” internasional. Tidak kurang Inggris, Amerika dan Jepang akan menyokong bantuan dana yang diberikan kepada Karzai.

Selama ini, orang-orang yang anti-Taliban berpikir bahwa kelompok Mujahidin itu bisa disuap. Menurut Karzai, perang bukanlah satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian dan ada perbuatan lain yang masih bisa dilakukan seperti rencana barunya.

Sebenarnya, Amerika, Inggris dan negara-negara Barat lainnya tidak setuju dengan ide itu, tapi Karzai berhasil membujuk mereka, entah bagaimana.

“Kami akan mencapai ‘perdamaian’ dengan banyak uang,” katanya.

Tanggapan Taliban? Mereka hanya tertawa mencibir. Tentu, Taliban tidak akan bertahun-tahun berjuang jika hanya kemudian akan berakhir dengan segepok uang yang merupakan simbol dunia belaka.

www.eramuslim.com

Oleh: KAMMI Komisariat Universitas Gadjah Mada | Januari 26, 2010

Sebuah refleksi untukmu Aktivis

Sebuah refleksi hati, disaat kejenuhan melanda. Oleh Yova Tri Yolanda (Bendahara Umum KAMMI UGM)

Sore ini mengisi sebuah acara ri’ayah bertemu dengan berbagai teman-teman dari latar belakang akademis maupun keluarga yang berbeda. Luar biasa, setiap manusia diciptakan dengan keunikan masing-masing. Pembicaraan awal, mengenai perasaan, hampir semuanya menyatakan hal yang sama. Lalu aku mulai berbicara, menyatakan apa yang kuketahui, apa yang kulakukan dan apa yang kualami. Lalu mereka memberikan respon balik terhadap apa yang telah kukatakan. Semuanya menyatakan hal yang berbeda-beda, setiap orang memiliki pendapat dan persepsi sendiri-sendiri.

Menyenangkan ketika semuanya berjalan seperti ini,, pemuda-pemudi yang kritis, berfikir out of the box,, mengulangi semua kesuksesan generasi sebelumnya dan tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan sehingga apa yang dicapai dalam perjalanan ini semakin luarbiasa setiap waktunya.

Namun ketika gerakan ini diwarnai berbagai virus dan penyakit hati.. sedih terasa mengelayuti semuanya, entah ketika membimbing adik-adik itu, saya teringat berbagi gejolak yang sedang melanda teman-teman saya yang telah lama berjalan bersama. Allah lah yang membolak-balikan hati manusia.. Namun Allah juga memberi kesempatan untuk manusia menentukan nasibnya, begitu juga dengan mengatur alur sang hati… Akan terlena dan terbawa virus dan penyakit hati tersebut atau kemudian kembali meluruskan semuannya hanya atas pencarian ridhoNya.. Bukan amal yang membawa kita ke surga tapi ridho dariNya yang mengantarkan kita ke tempat terbaik di akhirat nantinya.

Berinteraksi, beraktivitas, beribadah itu untuk mencari ridhoNya.
namun ketika itu semua berjalan untuk dilihat orang lain, untuk mendapatkan tujuan lain maka beristighfarlah saudara…

sebuah pertanyaan dari seorang adik itu membuat saya kembali ke pembicaraan sore di ri’ayah itu… Saya menjawab sebisa saya,, dengan kata-kata motivasi yang memicu mereka,, bergeraklah..!!! kalian bisa…

Bangunan ini bukan tentang bagian-bagian terpisah tapi satu bangunan utuh dimana kalian saling menyokong dengan keahlian, bakat dan hal yang kalian minati.. Satu bagian mengenali bagian yang lain, satu bagian tidak menafikkan keberadaan yang lainnya,, mengetahui secara dalam hal yang diminati dan mengetahui hal-hal diluar sana…
Tidak adikku,, dakwah ini tidak seberat itu,,, ketika kalian berjalan berpegangan tangan, menautkan hati, berjuang bersama…pundak akan terasa lebih lebar untuk memangku semua itu.
Maka bersinarlah.. buatlah orang diluar sana terpukau dengan kalian, ingin mendekat dan nanti diakhirat sana kita akan berkumpul di suatu Arsy yang para sahabat dan nabi iri melihatnya,, suatu Arsy yang dihuni oleh orang-orang yang saling berinteraksi dan mencintai karena Allah.

Saya kemudian kembali menyelami hati saya,, betapa saya geram ketika melihat teman-teman mulai tidak bisa menjaga hati mereka.. Namun ternyata saya bukannya berusaha membantu mereka yang sedang tenggelam, saya malah pergi menjauh dan tidak memberikan pelampung penyelamat. Ya.. Allah betapa kemudian saya malu dengan diri saya sendiri.. idealita yang saya punya malah membuat saya menjauh dari realitas, tidak mampu bertahan.. Sore itu dikala memotivasi adik-adik itu, tanpa sadar saya pun termotivasi oleh mereka.. Tanpa mereka sadar karena pertanyaan, pendapat, dan senyuman mereka, seorang kakak telah tersadarkan..

Sebuah sms datang setelah itu isinya ” jazakillah kak saya terinspirasi dan Isyaallah akan segera bergerak”..
dan dalam hati saya pun berazzam.. saya pun akan bergerak dan terus bergerak…Amin..

Oleh: KAMMI Komisariat Universitas Gadjah Mada | Januari 19, 2010

Ekonomi-Politik Wacana “Islam Radikal” vis-a-vis “Islam Moderat”

Oleh    : Ahmad Rizky Mardhatillah Umar[1]

ABSTRACT

The problem of terrorism haunted Indonesia since 1998. The fall of Soeharto also followed by the rise of some groups whose ideoligical roots come from Islamic political movement in middle east. Many researchers, like Mujani (2004), Azra (2006), or van Bruinesen (2002) believes that terrorism is caused by the radical movement of Islamist groups, and they promote the empowerment of moderate society to encounter the radical ones. But in another discourse, like Hadiz and Robison (2004), or Hadiz (2009), the problems are not only the radical group, but also its root: poverty, oligarchy, and authoritarianism which has been inherited by New Order authoritarian era. This article tries to analyze the genealogy of radical Islam group in Indonesia using political economy approach.

Keywords: Radical Islam, Political Economy Oligarchy.

A. Pengantar

Munculnya fenomena terorisme di Indonesia telah mengajak kita untuk mendiskusikan sebuah fenomena yang muncul dari pemberitaan media: Islam “radikal”. Pasca-pengeboman kuningan, banyak pihak yang mencoba untuk mengaitkan pengeboman ini dengan kelompok yang diberi label “radikal” oleh media massa. Padahal, labelisasi “Islam Radikal” ini sebenarnya masih sangat problematis dan perlu diperdebatkan oleh para teoritisi ilmu politik.

Dengan adanya kelompok yang dinilai “radikal” atau “populis”—meminjam istilah Vedi R Hadiz— yang dilabelisasi oleh media dan analis terorisme, apakah diskursus berhenti pada titik ini, dengan menstigmatisasi kelompok Islam ini sebagai pelaku teror, tanpa memperhatikan diskursus historis yang menyebabkan kemunculan ini? Apakah diskursus tidak lagi memperhatikan sebab-sebab lain yang sebenarnya lebih substansial daripada sekadar labelisasi?

Dr. Vedi R Hadiz, pengajar di National University of Singapore yang juga Doktor lulusan Murdoch University, memotret masalah ini pada seminar Dies Natalis FISIPOL UGM beberapa waktu lalu[2].

B. Melacak Keterkaitan Islam Radikal dan Terorisme

Menjadi menarik bagi penulis untuk menganalisis keterlibatan fundamentalisme agama ketika Indonesia dihadapkan pada sebuah fenomena munculnya gerakan terorisme transnasional yang beberapa waktu lalu melakukan pengeboman di beberapa tempat. Dari pemberitaan media, penulis menangkap bahwa seakan-akan para pengebom Bali adalah mereka yang terdoktrinasi untuk menghalalkan segala cara dalam memenuhi tuntutan ideologis mereka.

Akhirnya, muncullah stereotipe mengenai gerakan keagamaan yang “fundamentalis”. Stereotipe ini kian meluas tidak hanya pada aksi terorisme, tetapi juga pada aspek-aspek lain yang tidak ada kaitannya dengan aksi teror. Di beberapa tempat, orang-orang yang memiliki identitas keislaman yang kuat justru dicurigai sebagai “teroris” atau “fundamentalis” yang dianggap berbahaya.

Persoalannya, apakah benar terorisme inheren dengan Islam Radikal?

Beberapa penulis yang mengaku “moderat”, seperti Mujani (2004) atau van Bruinesen (2002) melacak akar genealogis dari Islam Radikal. Mujani (2004) yang menganalisis keterkaitan Islam dan demokrasi di Indonesia menilai, keberadaan Islam Radikal bukan fenomena yang genuine lahir di Indonesia; mereka kental dengan pengaruh-pengaruh eksternal dari Timur Tengah. Keberadaan gagasan “Islamisme” yang mereka bawa, menurut Mujani, pun tidak sepenuhnya mencerminkan keindonesiaan[3].

Sementara menurut van Bruinesen (2002), kelahiran apa yang ia sebut sebagai “radical Islam” dapat dilacak pada munculnya Darul Islam di beberapa kota dan partai politik Masyumi (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang kerap membangun jaringan transnasional dengan beberapa gerakan di Timur Tengah. Gerakan yang dimaksud beragam: ada Wahabi di Arab Saudi, Ikhwanul Muslimin di Mesir, dan lain sebagainya. Di kemudian hari muncul Hizbut-Tahrir dari Yordania.

Darul Islam membangun fragmen kelompoknya dengan kekuatan militer: beberapa pemberontakan lahir di Sulawesi Selatan (Kahar Muzakkar), Kalimantan Selatan (Ibnu Hajar), Jawa Barat (Kartosuwiryo), dan Aceh (Daud Beureueh). Dengan kekuatan ini, Darul Islam melancarkan pemberontakan kepada pemerintah RI secara terbuka, kendati kemudian dapat diberangus oleh rejim politik ketika itu. Adapun Masyumi membawa gagasan Islam dalam kerangka kenegaraan di parlemen dan berhasil menempati posisi kedua di Pemilu 1955[4].

Azra (2006) juga menegaskan hal yang tidak jauh berbeda. Ia menyebutkan dua fenomena yang ia sebut sebagai “mainstream muslims” di satu sisi, dan kelompok radikal di sisi yang lain[5]. Dua hal yang ia pandang bertentangan satu sama lain ini mewarnai Islam di Indonesia pascareformasi dan, seperti logika Huntington yang sudah-sudah, ia juga melihat adanya benturan kepentingan di antara dua kelompok ini. Azra (2006) melihat pentingnya memberdayakan kelompok moderat sebagai salah satu upaya menanggulangi kelompok radikal ini.

Persoalannya, apakah benturan antara kelompok “radikal” dan “moderat” ini yang melahirkan terorisme? Persoalannya, dulu, aktivitas terorisme ini justru dilakukan oleh Orde Baru. Azra, Mujani, atau van Bruinesen boleh-boleh saja mengatakan bahwa radikalisme dibawa oleh gerakan Islam transnasional, tetapi kita tak dapat melupakan bahwa jauh sebelum gerakan Islam masuk, Orde Baru telah terlebih dulu mempraktikkan aksi teror kepada PKI, aktivis Islam, aktivis prodemokrasi dan kelompok lain yang resisten terhadap rejim.

Aktornya bukan paramiliter atau kekuatan bersenjata yang revolusioner. Orde Baru menggunakan tentara sebagai alat politik, atau dalam bahasa Huntington sebagai “penjaga praetorian”, dan meneguhkan eksistensi rejim yang dibangun dari kapitalisme yang rapuh tersebut selama 32 tahun. Feith (1980) menyebut hal ini sebagai rejim “developmentalis represif”[6].

C. Membaca Pemunculan Terminologi “Radikal” vis-a-vis “Moderat”: Perspektif Material-Historis

Dengan membaca tesis-tesis tersebut, akan muncul pertanyaan baru: apakah benar bahwa Islam Radikal merupakan gagasan eksternal, tanpa adanya intervensi rejim politik yang turut melahirkan kelompok Islam Radikal sebagai alat politik? Kita dapat menggunakan perspektif historis untuk membaca hal tersebut. Sejarah, menurut Dr. Hadiz, membuktikan bahwa kemunculan Islam sebagai sebuah kekuatan politik di Indonesia sarat dengan kepentingan-kepentingan material.

Sehingga, pada perkembangannya justru terjadi fragmentasi pada kelompok muslim: pemilik modal yang ingin meneguhkan kepentingannya, dan mereka termarjinalkan karena tak memiliki modal. Di beberapa partai pun terjadi hal demikian. Di Syarikat Islam, misalnya, Samanhudi (pendiri SI) merupakan pedagang batik. Hal ini menyebabkan ambiguitas ketika umat Islam mentransformasikan kekuatan pada satu gerakan anti-kolonial.

Awal kemunculan gerakan politik Islam di Indonesia, yaitu Sarekat Islam (SI), misalnya, diawali oleh inisiatif pedagang-pedagang muslim untuk melindungi kepentingan dagang mereka dari ekspansi pedagang Cina. Mereka sadar bahwa untuk mengalahkan lawan bisnis harus dengan persatuan. Perkembangan berikutnya, Sarekat Islam pasca-Tjokroaminoto terfragmentasi menjadi SI-Merah yang akhirnya kita kenal sebagai Partai Komunis Indonesia.

Dalam konteks Negara pasca-Kolonial, kekuatan politik umat Islam yang direpresentasikan oleh Masyumi, juga diwarnai oleh kepentingan-kepentingan material yang menjadi sebuah basis dalam perseteruan kelompok Islam dengan kelompok sekuler dalam perdebatan mengenai ideologi negara.

Berpijak pada logika tersebut, maka sejarah umat Islam di Indonesia adalah sejarah pergolakan kepentingan-kepentingan material vis-à-vis mereka yang termarjinalkan. Persoalannya, apa yang terjadi ketika rejim Orde Baru kemudian mengambil alih peran sebagai pemilik sumber daya dan secara represif melakukan subordinasi kepada kelompok-kelompok yang berpotensi menjadi oposisi terhadap sentralisme peran negara?

Pada titik ini, Dr. Vedi R Hadiz memberikan analisis kunci terhadap kemunculan gerakan-gerakan yang dinilai radikal. Orde Baru, dengan perangkat-perangkat birokrasi, baik dalam jenis militer maupun sipil, mentransformasikan diri menjadi rejim otoritarian dengan cara menindas kekuatan-kekuatan yang berpotensi menjadi oposisi. Komunisme dijadikan ideologi terlarang. Nasionalisme, sebagai kekuatan terkuat pasca-1955, dipersempit ruang geraknya dengan membungkam hak politik tokoh-tokohnya. Sehingga, kekuatan yang tersisa tinggal satu: Islam, yang tak dapat dihabisi oleh rejim karena memiliki basis kultural yang sangat kuat.

Untuk melakukan subordinasi terhadap kekuatan Islam, lahirlah diskursus mengenai “Islam Radikal”. Kasus pertama yang dicuatkan oleh rejim Orde Baru adalah Komando Jihad (pembajakan pesawat Woyla) yang disinyalir sebagai aksi terorisme pertama di Indonesia. Kemudian, lahirlah kasus-kasus lain yang sebenarnya tak bisa dilepaskan dari kepentingan politik Orde Baru.

Di sisi lain, borjuasi yang pada hakikatnya dibangun atas hubungan patrimonial antara negara dan pasar juga melahirkan disparitas dan kekecewaan di akar rumput. Sehingga, basis sosial dari kelompok yang disebut oleh Orde Baru sebagai “Islam Radikal” ini pun lahir dan terkonstruksi oleh realitas politik.

Pada titik ini, Vedi R. Hadiz memberikan sebuah tesis: Terorisme –atau mereka yang distigmakan sebagai “Islam Radikal”—pada hakikatnya dilahirkan oleh Orde Baru. Kelahiran terorisme merupakan sebuah proses panjang dari turbulensi sosial dan politik yang mencuat karena rejim Orde Baru yang begitu represif telah menggunakan peran-perannya untuk menekan Islam sebagai kekuatan politik di Indonesia.

Di sini, mereka yang termarjinalkan oleh Orde Baru dipetakan oleh Dr. Vedi R. Hadiz ke dalam tiga kelompok: petani atau kelas pekerja yang miskin karena tergerus oleh proses industrialisasi, kelas menengah yang terdidik tetapi tak memiliki pekerjaan, dan pengusaha kecil yang modalnya kalah kompetitif oleh hasil oligarkhi antara negara dan pasar. Mereka yang termarjinalkan ini akhirnya melahirkan kekecewaan yang bersinergi dengan basis sosial mereka sebagai seorang muslim, sehingga melahirkan gagasan untuk merebut peran negara (“populisme”) dengan basis “ketakwaan”.

D. Menjelaskan Genealogi Islam Radikal di Indonesia

Mengapa kemunculan kelompok “radikal” tersebut dimulai dari tiga elemen tersebut? Mari kita analisis. Kelompok kelas pekerja yang miskin merasa termarjinalkan oleh rejim politik Orde Baru, muncul ke depan untuk melakukan perlawanan. Politik korporatisme negara yang dilakukan Orde Baru membuat perlawanan menjadi tidak mungkin dilakukan dengan media serikat buruh. Kelompok ini menjadi marjinal, dan dengan keyakinan agama Islam yang dianutnya, ia para pekerja yang miskin pun menjadi radikal.

Akan tetapi, jumlah ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan kelompok kelas menengah yang terlempar dari lingkaran kekuasaan karena memiliki idealisme berbasis nilai Islam yang kuat. Kelompok ini mengorganisasi diri dalam wujud gerakan sosial, menjalin jaringan strategis dengan kelompok lain, dan membawa Islam sebagai landasan dalam berjuang.

Kelompok lain, pemilik modal kecil yang dikalahkan oleh pemodal raksasa juga memainkan peran. Merekalah yang memobilisasi penggalangan dana untuk aksi yang mereka lakukan. Pada dasarnya, tujuan mereka tak jauh berbeda: Menghancurkan tirani rejim politik yang telah membuat mereka termarjinalkan.

Tiga kelompok ini, menurut Dr. Vedi R. Hadiz dalam ceramahnya di FISIPOL UGM, menjadi kelompok yang menanamkan nilai Islam dengan kuat dan memobilisasi massa untuk melakukan perubahan sosial[7]. Muncullah aksi-aksi yang dianggap oleh sebagian orang yang masuk dalam lingkaran borjuasi sebagai “terorisme”. Hal ini pula yang menjadi sebuah gagasan untuk melahirkan “negara Islam” yang dinilai memiliki tawaran solusi yang lebih konkret terhadap permasalahan bangsa.

Lantas, bagaimana keterkaitan mereka dengan gerakan transnasional? Pada dasarnya, gerakan-gerakan politik Islam di Timur Tengah memiliki latar belakang yang sama: respons terhadap penindasan. Hassan Al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir, pernah berkata dalam Risalah Pergerakannya menegaskan karakteristik dakwah Ikhwanul Muslimin yang anti-kezaliman dengan peran pemuda yang sentral di dalamnya (|Amin, 2006). Begitu juga dengan Taqiyuddin An-Nabhani yang menyerukan penghentian ketidakadilan dalam bingkai khilafah Islamiyyah dalam karyanya, Asy-Syakhsiyyah Al-Islamiyyah (1948)[8].

Artinya, keberadaan kelompok yang disebut-sebut oleh tiga penulis di atas sebagai “Islam Radikal” tersebut buka merupakan “perpanjangan tangan” dari gerakan Islam di Timur Tengah. Keterkaitan mereka dengan gerakan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir lebih disebabkan oleh kesamaan visi dan persepsi mengenai perubahan sosial dalam kerangka politik dan hukum Islam. Hal inilah yang belum terjawab oleh analis dan peneliti politik yang terkait erat dengan rejim politik selama lima tahun terakhir.

Selama ini, beberapa penulis yang memiliki karakteristik “liberal epistemik” cenderung memosisikan kelompok “Islam Radikal” sebagai tersangka ketika terjadi konflik yang membawa-bawa label agama. Padahal, sadar atau tidak, takkan ada konflik jika oligarkhi yang menaunginya masih tetap eksis di negeri ini. Para penulis seperti Mujani, Azra, atau van Bruinesen gagal menjelaskan, mengapa “segitiga besi” penguasa-pengusaha-media, yang pada gilirannya ditambah dengan”ulama” yang mendekat ke rejim, justru meneguhkan akar dari Islam Radikal ini. Hal ini perlu dianalisis untuk menemukan titik temu dalam menanggulangi terorisme.

Beranjak dari logika di atas, kemunculan gerakan “Islam Radikal” tidak lagi kita pahami sebagai “talibanisasi”, “wahabi”, atau “Islam Transnasional”, tetapi berakar dari represivisme Orde Baru yang membungkam Islam sebagai sebuah kekuatan politik. Islam Radikal hanya simbol ketidakpercayaan terhadap sebuah rejim yang otoriter dan membungkam suara rakyat.

E. Politik Islam Radikal Pasca-Soeharto: Oligarkhi yang Terkonsolidasi?

Lantas, bagaimana kita dapat menjelaskan fenomena gerakan “Islam Radikal” pasca-Soeharto yang dituduh telah melakukan pengeboman di Bali beberapa waktu yang lalu? Kembali, konteks politik Indonesia kontemporer tak dapat dilepaskan begitu saja dari fenomena tersebut.

Hadiz dan Robison (2004) mengemukakan gagasan bahwa pasca-transisi politik, Indonesia mengalami fenomena “kekuasaan yang terorganisasi ulang” (reorganising power)[9]. Menurut Hadiz dan Robison, lokus kekuasaan pascareformasi justru menempatkan kekuatan borjuasi, baik di level lokal, nasional, ataupun internasional, sebagai kekuatan yang cukup diperhitungkan dalam politik Indonesia.

Publik kembali disuguhi penampilan politik para pemilik modal yang menjadikan politik sebagai arena untuk mempertegas hegemoni bisnisnya. Kekuasaan memang terdesentralisasi ke daerah, tetapi elit-elit borjuis lokal yang memegang  kendali. Sistem politik memang telah mengarah pada demokratisasi, tetapi ekonomi-politik Indonesia masih tetap bertipe klientelistik, patrimonial, dan neoliberalistik dengan gagasan korporasi (pasar) sebagai aktor utama.

Inilah yang kemudian disebut oleh Hadiz dan Robison (2004) sebagai oligarkhi[10]. Meminjam gagasan Michels (1915), oligarkhi pada awalnya muncul pada sebuah organisasi partai politik yang menempatkan senioritas figur sebagai sentral dan konstituen sebagai alat untuk meneguhkan kekuasaannya di partai tersebut[11]. Dalam pendekatan ekonomi-politik yang digunakan oleh Hadiz dan Robison, kekuatan pemilik modal menjadi bagian terpenting dari oligarkhi yang coba dibangun antara pemerintah, elit pemilik modal, dan media massa.

Lantas, apa hubungan antara persoalan ini dengan terorisme?

Jika menggunakan kacamata material-historis, kita dapat menganalisis bahwa umat Islam yang memiliki basis sosial kuat di Indonesia kembali marjinal. Seharusnya, ketika Orde Baru runtuh, kekuatan yang tampil sebagai hegemoni pasca-rejim adalah umat Islam yang diwakili oleh kelompok modernis, serta adanya akomodasi terhadap kelompok tradisional. Akan tetapi, adanya hegemoni pemilik modal menghindarkan kemungkinan tersebut.

Muncullah fragmentasi. Jika Mujani (2004) berpendapat bahwa hal ini merupakan sebuah perbedaan antara “Islamisme” yang konon dibawa dari timur tengah dengan “Muslim Demokrat” yang khas Indonesia[12], dalam konteks ini penulis, meminjam wacana Hadiz dan Robison (2004), menarik kesimpulan bahwa oligarkhi menyebabkan fragmentasi antara umat Islam yang memiliki akses ke politik karena memiki modal dengan umat Islam yang tak memiliki kapital, tetapi mempunyai idealisme dan semangat untuk membawa perubahan dan melepaskan diri dari kemiskinan struktural yang dihadapinya.

Persoalan material menjadi sebuah penyebab bagi kemunculan mereka yang menginginkan adanya perubahan politik secara radikal karena oligarkhi yang dibangun hanya melahirkan disparitas. Gagasan negara Islam hanya sebuah alternatif bagi umat Islam yang disebut-sebut “radikal” tersebut, karena model negara yang dianut oleh Indonesia sekarang tidak terbukti mampu membawa kesejahteraan bagi rakyat pada umumnya.

Dalam konteks yang lebih luas, dorongan untuk melakukan aksi pengeboman, mengubah bentuk negara, dan lain sebagainya, pada intinya muncul karena dua hal.

Pertama, karena negara tidak mampu memberikan hak-hak bagi mereka yang terjerumus oleh kemiskinan struktural. Kedua, karena sebagian umat Islam di Indonesia secara genealogis memiliki akar perjuangan yang kuat dalam melawan penjajah, dan keberadaan korporasi asing serta oligarkhi neoliberal yang dianut oleh rejim politik sekarang dianggap sebagai sebuah “penjajahan semu” atau “state-captured corruption” (Rais, 2008)[13].

Sehingga, hal ini mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan: “Terorisme” di Indonesia takkan selesai dilakukan jika pemerintah tidak membenahi persoalan-persoalan struktural yang dihadapi oleh Indonesia. Neoliberalisme, dalam berbagai wujud dan wajahnya di Indonesia, perlu diselesaikan agar kelompok yang menggunakan kekerasan sebagai strategi perjuangan dapat diredam dengan disertai kesadaran dari pelaku kekerasan itu sendiri.

F. Kesimpulan: Perlukah “Memberantas”  Islam Radikal?

Disadari atau tidak, Indonesia telah menapak pada era baru yang berbeda dari rejim sebelumnya. Sehingga, dengan keterbukaan dan demokrasi yang semakin terkonsolidasi, kontrol terhadap rejim politik menjadi lebih berjalan.

Untuk itu, jika kita memersepsikan “Islam Radikal” sebagai sebuah ancaman bagi proses demokratisasi, hal utama yang perlu dilakukan adalah menanggulangi kesenjangan-kesenjangan struktural yang ada di Indonesia. Persoalan Islam Radikal bukan sekadar ideologi yang menghalalkan kekerasan, tetapi juga karena ada ketidakadilan dan ketimpangan struktural. Jika pada era Orde Baru ada campur tangan rejim dalam membentuk wacana “radikal”, maka pasca-Orde Baru radikalisme dibentuk oleh ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang oligarkhis.

Dengan logika tersebut, artinya akar dari masalah “radikalisme” agama bukan persoalan teologis; ini masalah sosial-ekonomi, dan akhirnya masuk ke ranah politik. Pendekatan “Islam Moderat” yang coba ditawarkan oleh beberapa penulis seperti Azra (2006) atau Mujani (2004) pada dasarnya bukan solusi konkret; wacana ini hanya dimunculkan oleh rejim politik dan intelektual di belakangnya untuk memfragmentasi umat Islam agar tidak terkonsolidasi dalam satu kesatuan massa yang besar. Dengan kata lain, “Islam Moderat” adalah wacana yang diberikan oleh rejim politik untuk menghadapi ancaman-ancaman bagi rejim itu.

Untuk menutup artikel ini, penulis perlu memberikan sebuah argumentasi akhir: Kemiskinan adalah sebuah implikasi dari salah pembacaan dan tiruan kebijakan yang tidak disesuaikan dengan konteks dan kondisi objektif dari negara tersebut. Persoalan kelahiran “Islam Radikal” takkan lepas pada bagaimana negara mengentaskan kemiskinan. Tugas pemerintahlah untuk menjawab hal itu.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Shadiq. Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal Pent. Syarif Ridwan. (Jakarta : Al-I’tishom Cahaya Umat,  2006).

Azra, Azyumardi. “Indonesian Islam, Mainstream Muslims And Politics”. Paper Dipresentasikan Pada Taiwanese and Indonesian Islamic Leaders Exchange Project, Taipei, 26-31 Oktober 2006.

Feith, Herbert. “Rezim-rezim Developmentalis Represif di Asia: Kekuatan Lama, Kerawanan Baru”, Prisma, 11, November 1980, 69-84.

Hadiz, Vedi R. “Islamic Populism and Political Transition in Post-Soeharto Indonesia”, ceramah dalam Seminar internasional, Political Transition in Indonesia: Order and Changes. Yogyakarta, November 2009.

Michels, Robert. Political Parties: A Sociological Study of Oligarchical Tendencies Of Modern Democracy (New York: Collier, 1966)

Mujani, Saiful. Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca-Orde Baru (Jakarta: Gramedia, 2007).

Rais, Mohammad Amien. Agenda-Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia! (Yogyakarta: PPSK Press, 2008).

Robison, Richard dan Vedi Hadiz. Reorganising Power in Indonesia: The Politics of Oligarchy in an Age of Markets (London: Routledge, 2004).

van Bruinesen, Martin. “Genealogies of Islamic Radicalism in Post-Soeharto Indonesia”. South East Asia Research, 10, 117–154


[1] Ahmad Rizky Mardhatillah Umar adalah Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UGM (08/267465/SP/22916) dan Kader KAMMI Komisariat UGM. Bergiat di Departemen Kajian dan Keilmuan BEM KM UGM 2009.

[2] Hadiz, Vedi R. “Islamic Populism and Political Transition in Post-Soeharto Indonesia”, ceramah dalam Seminar internasional, Political Transition in Indonesia: Order and Changes. Yogyakarta, November 2009.

[3] Saiful Mujani, Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi, Dan Partisipasi Politik Di Indonesia Pasca-Orde Baru (Jakarta: Gramedia, 2007).

[4] van Bruinesen, Martin. Genealogies Of Islamic Radialism In Post-Soeharto Indonesia. South East Asia Research, 10, 2, Pp. 117–154

[5] Azra, Azyumardi. Indonesian Islam, Mainstream Muslims And Politics. Paper Dipresentasikan Pada Taiwanese And Indonesian Islamic Leaders Exchange Project, Taipei, 26-31 Oktober 2006.

[6] Feith, Herbert. 1980. ‘Rezim-rezim Developmentalis Represif di Asia: Kekuatan Lama, Kerawanan Baru’, Prisma,11 (November), 69-84.

[7] Hadiz, Vedi R. op. cit.

[8] Amin, Shadiq. Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal Pent. Syarif Ridwan. (Jakarta : Al-I’tishom Cahaya Umat,  2006).

[9] Robinson, Richard dan Vedi Hadiz. Reorganising Power In Indonesia: The Politics Of Oligarchy In An Age Of Markets (London: Routledge, 2004).

[10] Ibid.

[11] Michels, Robert. Political Parties: A Sociological Study Of Oligarchical Tendencies Of Modern Democracy (New York: Collier, 1966). Pp. 35.

[12] Mujani, Saiful. op. cit.

[13] Rais, Mohammad Amien. Agenda-Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia! (Yogyakarta: PPSK Press, 2008). h. 175.

Oleh: KAMMI Komisariat Universitas Gadjah Mada | Januari 19, 2010

Suatu Malam di Yogya Selatan


Cerpen Oleh    : Ahmad RIzky Mardhatillah Umar

Aktivis KAMMI Komisariat UGM,

Hujan lebat mengguyur kota Yogyakarta. Untuk kesekian kalinya aku terjebak dalam suasana hujan ini, tepat ketika malam menjelang, dan aku sedang berada di jalanan, seperti biasa. Bergegas aku mencari tempat berteduh. Tak ada yang dapat kutemui di daerah ini, kecuali sebuah angkringan[i] di pinggir jalan, di depan sebuah rumah yang agak bonafid. Aku pun bergegas ke angkringan itu. Sekalian mengisi perut, pikirku.

***

Malam hari di kota Yogyakarta biasanya ramai oleh penduduk. Baik mahasiswa rantau ataupun penduduk asil Yogya, malam hari selalu hidup. Salah satu keramaian biasanya ada di angkringan, sebuah warung makan yang digelar di atas sebuah dorongan. Warung nasi kucing adalah nama lainnya, karena biasanya angkringan menjual nasi bungkus dengan porsi sangat sedikit, dan lauk khas yang beragam: oseng, sambal teri, atau tempe. Kebiasaan ngangkring ini sangat digemari oleh mahasiswa, apalagi mahasiswa rantau yang berkantong cekak seperti aku.

Aku pun duduk. Di sampingku, duduk seorang bapak yang sedang asyik menikmati segelas teh dan sepotong gorengan. Ia tersenyum kepadaku ketika aku masuk dan mencoba mengeringkan pakaianku.

“Teh jahe setunggal[ii], pak!” aku memesan minuman pada bapak penjual angkringan. Sambil mengeringkan badan yang basah kehujanan, aku mengambil “nasi kucing” lauk sambal teri yang tersedia. Tak lupa sepotong mendoan untuk lauk nasi sambal teri yang kuambil. Biasanya, nasi dengan lauk sambal teri, mendoan, dan teh jahe dijual seharga Rp 3.000. Tergolong murah untuk ukuran mahasiswa.

Kuseruput teh jahe yang kupesan. Lumayan, cukup hangat di suasana dingin seperti sekarang. Sedang asyik menyeruput jahe, tiba-tiba bapak yang duduk di sampingku tadi bertanya kepadaku,

“Lagi kehujanan, dik?” sapa beliau ramah. Aku menoleh. Bapak yang duduk di sampingku ini seorang pria separuh baya, usianya jika ditaksir kira-kira 56 tahun, sebaya dengan beberapa dosen. Mungkin satu angkatan, pikirku.

“Oh, iya pak. Kebetulan tadi dari mesjid dan kehujanan di jalan,” jawabku. Karakter orang Jawa memang khas, dan ini yang kusukai: ramah dan cepat akrab.

“Adik pasti bukan warga daerah sini, kalau boleh saya tebak,” kata Bapak tadi.

“Benar pak, kebetulan saya kos di daerah Demangan Baru, sebelah timur Jalan Gejayan. Di sini saya cuma jalan-jalan, refreshing habis ujian semester”.

”Oh, begitu. Kalau boleh tahu adik kuliah di mana? Sanata Dharma?”

“Bukan pak, saya kuliah di UGM. Kebetulan saja saya kos agak jauh dari kampus”.

“O, ternyata UGM. Saya kira adik kuliah di Sanata Dharma. Daerah sana sepengetahuan saya kawasan Santa Dharma. Di Fakultas mana?”

“Fisipol pak, tepatnya Jurusan Hubungan Internasional”.

“Fisipol ya? Wah, spasti adik ini seorang aktivis,” tebak bapak itu. Aku tertawa. Sudah rahasia umum kalau kampusku dikenal luas sebagai “sarang aktivis”, wong tiap hari yang dibahas politik melulu. “Ah, tidak juga pak. Hanya kebetulan saja saya aktif di beberapa organisasi kampus. Tapi bukan berarti saya ini aktivis lho pak”, aku menjawab.

Bapak separuh baya tadi juga tertawa. Suasana di angkringan memang unik. Cair, penuh obrolan hangat, dan diselingi oleh canda tawa. Bahkan terkadang penjual angkringannya pun juga terlibat ngobrol dan bercanda. Benar-benar merakyat. Beda dengan senyum pelayan restoran yang terkesan hanya menjadi bagian dari rutinitas kerja yang menjemukan.

“Adik ini jangan berkelit. Beberapa orang teman saya dulu kuliah di Fisipol, dan mereka semuanya jadi aktivis. Suka demo di mana-mana, tiap hari rapat, bawaannya serius terus….. Memang kampus aktivis. Oh ya, nama adik siapa, kalau boleh tahu? Dan asalnya dari mana?”

“Awan pak. Kebetulan saya dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan”.

“Jauh juga ya. Pasti adik ini pulang kampung setahun paling tidak Cuma sekali atau dua kali ya?”. Kata bapak tadi.

“Benar pak. Biasanya pas lebaran, atau cuma pas liburan semester genap,” jawabku. Aku pun meneruskan makan, dan Bapak tadi juga terlihat menyeruput minuman beliau. Di luar, hujan masih lebat mengguyur. Akan cukup lama aku berada disini, pikirku. Sementara itu, nasi yang kupesan tadi telah habis kulahap. Untuk ukuran mahasiswa yang terbiasa lapar, nasi lauk ikan teri dan mendoan cukup mengenyangkan, walaupun tidak untuk waktu yang lama.

****

Saat itu aku berada di kawasan Nitikan, Umbulharjo, sebelah barat Terminal Giwangan. Kawasan itu berada di daerah selatan yogyakarta. Jika anda datang dari Terminal Giwangan, terus saja ke utara dan belok ke arah Timur ketika ada perempatan. Kawasan ini dan dikenal pula sebagai “kampung Muhammadiyah”. Tidak mengherankan, sebab di sebelah barat kawasan itu, daerah Karangkanjen, Pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan dimakamkan. Selain itu, dakwah Muhammadiyah juga sangat aktif di kawasan tersebut. Kawan-kawan aktivis IMM kerap menggunakan tempat ini untuk Darul Arqam Dasar atau sesekali bakti sosial. Dan seperti biasa, ada beberapa angkringan tersebar di kawasan ini jika berkunjung pada malam hari.

*****

Hujan lebat masih saja mengguyur di luar. Deru mobil dan kendaraan yang melaju di jalan sesekali terdengar. Aku menyeruput sisa teh jahe, dan berpikir mungkin akan menambah minuman hangat jika hujan ini masih memaksaku untuk bertahan. Tiba-tiba, bapak di sampingku tadi bertanya lagi,

“Mahasiswa sekarang masih sering demonstrasi, ya, dik Awan.”

“Iya, pak. Namanya juga mahasiswa. Kalau tidak mengkritisi pemerintah, atau menyuarakan aspirasi kita di jalan, rasanya ada yang kurang. Ini juga sebagai bentuk kepedulian kita pak. Bukankah suara mahasiswa juga suara rakyat?”.

“Tapi kok sekarang terlihat berbeda ya. Dulu, ketika mahasiswa demonstrasi, banyak masyarakat yang mendukung. Mahasiswa yang demo dulu dianggap sebagai lambang perlawanan dan suara rakyat. Tapi sekarang, ketika mahasiswa demo, masyarakat malah mencaci maki. Untuk apa demo, katanya, kalau cuma membuat kemacetan? Ah, apa sekarang mahasiswa hanya ikut-ikutan ya dik?”

“Maksud bapak?”

“Mahasiswa sekarang kelihatan tidak punya identitas. Asal ikut saja Ketika ada isu di luar, maunya langsung demo. Kalau perlu, membuat keributan dengan polisi. Padahal mereka sendiri kian jauh dari masyarakat, tidak tahu masyarakat itu inginnya apa. Pas pemerintah salah sedikit, pengennya langsung diganti. Tapi tidak tahu apa yang akan dilakukan setelah pemerintahnya diganti. Memangnya mereka punya skill apa? Lalu tidak tahu kondisi masyarakat. Lihat saja, pagi mereka demo, sore atau malamnya langsung ke mall. Bagaimana mau konsisten? Ya itu yang saya maksud ikut-ikutan.”

“Ah, tidak juga pak. Memang, kita sering demo. Tapi kan demo yang kita lakukan tujuannya positif. Kalau kita nggak demo, mungkin pemerintah sekarang lupa dengan nasib rakyat. Ya tujuan kita demo kan untuk mengingatkan pemerintah supaya berjalan di track yang benar. Kita kan agen perubahan pak. Masak kita tidak mau mengkritisi agar ada perubahan di masyarakat?” aku mencoba membela aktivis mahasiswa yang sekarang.

“Maksud saya gini dik. Dulu saya juga aktivis. Juga sering demo. Dan masalah demo itu tujuannya juga sama seperti yang adik sampaikan tadi. Tapi, saya merasa agak beda aja dulu sama sekarang. Dulu, demo itu seperti sebuah ungkapan kekesalan yang berlipat ganda. Kita jarang demo, tapi sekali demo tujuan kita jelas. Kadang harus berhadapan dengan tentara. Teman-teman kita di ITB dulu, sebelum dewan mahasiswa dibubarkan, harus berhadapan dengan tentara di dalam kampus sendiri. Beberapa aktivisnya malah ditangkap. Lha sekarang, mahasiswa tiap hari demo, bakar ban, tapi hasilnya malah ditertawakan. Demo kayak jadi hal yang biasa sekarang”, kata Bapak tadi lagi.

“Ya kan tidak semua aksi mahasiswa kayak gitu lah. Kita kan juga tidak hanya demo pak. Masih ada aktivitas lain seperti diskusi, seminar, atau bahkan riset lapangan. Dan ini juga kita lakukan demi perjuangan mahasiswa lho pak. Ya demo juga kita lakukan, tapi kan kita juga mahasiswa tho pak, yang tak lepas dari kampus,” jelasku. Aktivitasku di BEM dan gerakan mahasiswa memang tidak hanya aksi dan aksi, tetapi juga diskusi, advokasi mahasiswa, seminar, bahkan ada riset dan penulisan di media massa.

“Iya, saya juga tahu dik. Tapi, pernahkah Dik Awan sebagai seorang mahasiswa berpikir, mahasiswa itu sebenarnya siapa sih? Apakah mahasiswa itu adalah orang suci yang istimewa, yang suaranya adalah suara rakyat, dan demo yang ia lakukan juga untuk rakyat? Sudahkah adik-adik seperti Dik Awan ini terlibat langsung ke masyarakat, mencoba untuk mengerti persoalan yang ada di masyarakat, dan kemudian membaktikan ilmunya langsung kepada masyarakat? Inilah yang saya pahami tentag mahasiswa sebagai seorang intelektual. Dan untuk itulah gerakan mahasiswa itu ada. Itu kalau menurut saya lho dik. Mungkin pendapat dik Awan berbeda.” Terang Bapak itu tadi.

Aku pun agak terdiam. Bapak ini kelihatannya hanya seorang warga biasa, pikirku, tetapi pemikirannya begitu dalam. Beliau seperti dapat membaca kegelisahan yang selama ini kualami dalam pemikiran dan renunganku. Siapakah sebenarnya beliau ini? Hatiku mulai bertanya-tanya.

“Iya, ada benarnya juga ya pak. Terkadang saya juga berpikir, gerakan mahasiswa ini gerakan moral atau gerakan politik ya. Kalau mahasiswa itu gerakan moral, yang tiap hari kerjanya Cuma berpikir di kampus dan merenungi kebijakan, dan bertindak layaknya orang suci di menara gading, saya rasa terlalu pasif pak. Untuk apa kita bergerak kalau hanya untuk mendiamkan persoalan. Tapi ya tidak mungkin juga menjadi gerakan politik, bisa terbawa arus dan tidak sesuai juga dengan posisi mahasiswa yang harus lulus cepat-cepat. Mungkin bapak bisa memberi pendapat kepada saya mengenai masalah ini,” terangku. Aku mulai bersikap terbuka. Bapak ini kelihatan cukup arif dan memberi sinyal kuat kepadaku bahwa beliau juga seorang aktivis.

“Ah, Dik Awan ini kan aktivis, masak minta pendapat saya yang sudah tua? Tapi jika saya boleh memberi pendapat dik, mungkin Dik Awan atau teman-teman mahasiswa lain bisa belajar dari Bung Hatta, Bung Sjahrir, atau para pendiri negara kita dulu. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa cerdas, tetapi juga kritis dan dikenal luas sebagai aktivis. Bung Hatta dulu aktif di Perhimpunan Indonesia yang terkenal itu. Bung Karno aktif dikenal luas di kalangan kelompok studi mahasiswa Teknik di Bandung. dr. Sutomo duunya selain seorang dokter, juga aktivis, bahkan mendirikan organisasi. Lantas, apakah kita harus memisahkan seorang intelektual dan seorang aktivis? Kan tidak, dik.” Jelas Bapak itu.

“Maka,” lanjut Bapak tadi, “seorang mahasiswa itu harusnya sadar bahwa perannya itu tidak hanya mengurusi demo-demo yang tidak jelas atau hanya belajar di kampus. Pekerjaan mahasiswa itu lebih luas, sebenarnya: memahami masyarakat. Bagaimana mungkin seorang mahasiswa dapat menyuarakan aspirasi rakyat jika ia sendiri tidak paham kondisi masyarakat yang ia wakili?”

“Kebetulan saya pernah tinggal di sebuah desa yang menjadi mitra dari beberapa mahasiswa. Ketika para mahasiswa itu datang dengan dalih pengabdian masyarakat atau bakti sosial, saya perhatikan mereka itu seakan membuat jarak. Gaya hidup mereka banyak yang tidak membaur dengan masyarakat. Mereka masih membawa HP, laptop, motor, bahkan mobil dan lain sebagainya, ketika warga desa banyak yang berada di jurang kemiskinan. Ya,walaupun nggak semua orang kayak gitu. Saya jadi berpikir, seperti inikah mahasiswa kita? Saya juga seorang mahasiswa dik, dulunya”.

Bapak tadi kembali menyeruput tehnya. Sebuah perbincangan yang menarik, pikirku, dengan seorang Bapak yang memiliki pemikiran dalam yang jarang dimiliki oleh mahasiswa. Di luar, hujan sudah mulai mereda. Sayang sekali, kataku dalam hati, hujan reda ketika kita lagi seru-serunya diskusi. Aku mencoba menanggapi Bapak tadi,

“Terkadang kita para mahasiswa juga bingung pak. Seakan-akan, kita mahasiswa ini dibagi menjadi dua kelompok: kelompok mahasiswa yang aktivis dan mahasiswa yang kami anggap “apatis”. Kita yang aktivis sering dianggap lulus lama, nilai pas-pasan, atau bahkan “tukang demo”. Sementara mereka yang “apatis” kita anggap tidak punya idealisme, hanya diam di kelas, dan lain sebagainya. Akhirnya kadang kurang nyambung, walaupun kita masih saling bersahabat. Menurut Bapak, siapa yang salah?”

Bapak tadi menjawab sederhana, “Dua-duanya salah Dik Awan. Yang aktivis seakan-akan tidak peduli dengan kuliah, padahal itu mencerminkan kecerdasan dan daya nalar mereka. Yang apatis juga tidak peduli dengan lingkungannya, padahal mereka dulu dilahirkan dan besar di sana. Saya justru mengkhawatirkan kalian terus saling menyalahkan, ketika lulus kalian juga tidak akan mudah bekerja sama. Hasilnya ya juga tidak baik.”

****

Di luar, hujan sudah mereda. Rintik-rintik yang turun tidak lagi lebat, hanya gerimis biasa. Kendaraan dan mobil di jalan sudah mulai  hilir-mudik lagi.Bapak penjual angkringan memperbesar nyala api di lampu strongkeng. Salah satu keunikan lain dari angkringan adalah pnerangannya yang tradisional. Semakin menegaskan nuansa warung rakyatnya. Aku menghabiskan teh jaheku, begitu juga bapak yang tadi.

Sayang, hujan sudah berhenti. Saya harus segera pulang, Dik Awan. Kapan-kapan kita diskusi lagi ya, kalau ada kesempatan” Bapak tadi mengakhiri diskusinya. Hujan memang sudah berhenti.

“Iya, wah, pikiran saya jadi tercerahkan, Pak. Oh ya, saya kok belum mengenal Bapak ya. Mohon maaf, nama Bapak siapa, dan kok bisa tahu banyak mengenai dunia mahasiswa, Pak? Apakah Bapak dulu aktivis seperti kami?” Aku bertanya penasaran. Beliau tidak hanya berpikir mendalam, tetapi juga memiliki apa yang tidak kami miliki: pemahaman teori sebagai landasan bergerak.

“Oh ya, saya juga lupa memperkenalkan diri. Panggil saja saya Pak Aji, kebetulan saya seorang guru di sebuah SD di Bantul. Dulu saya juga seorang aktivis sebuah pergerakan, dan juga aktif di Dewan Mahasiswa. Generasi saya yang terakhir, karena setelah itu Dewan Mahasiswa dibubarkan oleh pemerintah. Setelah lulus, saya tidak berpikir untuk meneruskan cita-cita luhur saya, kembali ke masyarakat untuk mengajar. Alhamdulillah, sampai sekarang saya mengajar di sebuah SD. Membina masyarakat, bagi saya adalah sebuah tantangan dan kegemaran.”

“Oh, terima kasih Pak Aji,” jawabku. “saya memang masih harus belajar banyak. Apalagi, menjadi aktivis mahasiswa ternyata tidak ringan, ya Pak. Itu yang jadi beban bagi saya.”

“Ah, Dik Awan ini suka merendah,” kata Pak Aji, “adik kan mahasiswa politik, ya tentunya jadi masalah sosial politik itu makanan sehari-hari dong. Pesan saya, juga pada kawan-kawan mahasiswa zaman sekarang, jangan lupakan masyarakat. Aksi boleh, tapi juga harus seimbang dengan belajar dan turun ke masyarakat. Itu saja ya dik. Saya pergi dulu. “

Beliau membayar makanan yang beliau makan tadi dan mohon diri. Lama aku termenung. Sungguh, banyak sekali aktvis mahasiswa yang lupa diri setelah lulus kuliah, beberapa malah jadi koruptor dan banyak lagi. Aku jadi iri dengan bapak tadi. Dari segi penampilan dan pekerjaan, memang tidak ada yang istimewa. Tapi keikhlasan beliau ini yang laka, kataku dalam hati.

Kemudian sayup-sayup terdengar suara azan. Rupanya waktu shalat Isya sudah masuk. Aku pun segera membayar dan pergi ke mesjid terdekat, menunaikan titah Rabbi. Masih terngiang dalam benakku perkataan Bapak tadi, “Pesan saya, kepada kawan-kawan mahasiswa zaman sekarang, jangan lupakan masyarakat……..”

Kamar Kos di Catur Tunggal, Sleman.

15 Januari 2010,09:52.

Mencoba merefleksikan aktivitasku di Kampus UGM……


[i][i] Angkringan adalah warung kaki lima khas Yogyakarta, kerap disebut juga warung nasi kucing, karena menjual nasi dalam porsi sedikit, dibungkus daun pisang dan koran bekas.

[ii] Setunggal dalam bahasa Indonesia berarti satu. Bahasa Jawa kromo.

Oleh: KAMMI Komisariat Universitas Gadjah Mada | Januari 4, 2010

Ramadhan Pohan Dipukul Penulis Buku Gurita Cikeas?

alt

Insiden keributan mewarnai peluncuran buku ‘Membongkar Gurita Cikeas di Doekoen Cafe Pancoran Jakarta siang ini, Rabu (30/12).’ Insiden terjadi antara Pemimpin Redaksi harian Jurnal Nasional Ramadhan Pohan dengan si pengarang buku, George Junus Aditjondro.

Ramadhan Pohan yang juga anggota DPR dari Fraksi Demokrat merupakan salah satu penanggap dalam acara peluncuran buku di Doekoen Cafe, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu 30 Desember 2009.

Ramadhan tidak sendiri sebagai penanggap. Ada pula Boni Hargens dan Kastorius Sinaga dari Universitas Indonesia, Ray Rangkuti, Adhie Masardi, dan politisi Gerindra Permadi. Selain itu, ada pula ketua-ketua gerakan mahasiswa yang menjadi penanggap buku.

Keributan dipicu saat Ramadhan mendapat giliran untuk memberikan tanggapan soal buku. “Saya menyampaikan hak jawab, merespons soal saya di dalam bukunya Pak George,” buka Ramadhan.

“Ada dua hal. Pertama dalam buku, anda (George) berhalusinasi seolah-olah ada dana talangan Century masuk ke Jurnal Nasional. Saya ditanya keluarga saya, apakah benar saya terlibat mengambil dana talangan Century. Ini tidak benar,” kata Ramadhan.

Tiba-tiba, pembicaraan Ramadhan itu dipotong oleh Aditjondro. “Itu tidak benar saya berhalusinasi,” ungkap Aditjondro. Lalu terjadi adu mulut diantara keduanya.

Ramadhan dan Aditjondro masih duduk di kursinya masing-masing. Lalu keduanya ditenangkan oleh moderator Haris Rusli. Kemudian, Haris memberikan kesempatan berikutnya kepada Permadi untuk memberikan tanggapan.

Saat Permadi bicara, tiba-tiba Ramadhan pamit untuk pulang dan berdiri dari kursinya. Ketika Ramadhan berdiri, suasana ruangan yang penuh sesak itu menjadi riuh teriakan.

Ramadhan pun berjalan keluar sambil berkata kepada wartawan, “Tadi di dalam saya dipukul sama George pakai buku.” Mendengar pernyataan Ramadhan, seorang panitia berteriak, “Bohong, tidak ada pemukulan.”

George Junus Aditjondro juga langsung membantah di hadapan wartawan. “Saya tidak memukul, bahkan buku yang saya pegang itu sama sekali tidak menyentuh wajah dia (Ramadhan Pohan),” kata George kepada wartawan.

Menurutnya ini fitnah yang dialami pasca terbitnya buku sejak beberapa waktu lalu. “Banyak ancaman dan ini fitnah,” tuturnya sambil berlalu.

www.suara-islam.com

Tulisan Sebelumnya »

Kategori